Wawasan

ANAK-ANAK DAN IMAJINASI LE PETIT PRINCE

ANAK-ANAK DAN IMAJINASI LE PETIT PRINCE

“Jika ada kebebasan, yang tak terikat pada tujuan, pamrih, target, itulah kebebasan sejati yang terdapat di dunia kanak.” Begitu tulis Goenawan Mohammad (GM) dalam “Catatan Pinggir”, Tempo edisi 1 Mei 1976.

Anak-anak adalah mereka yang menari di atas dunia tak terbatas. Dunia yang penuh imajinasi dan rasa ingin tahu yang tinggi.

Saya teringat dengan Pangeran Cilik. Tokoh dari novel Le Petit Prince karya Antoine De Saint-Exupery yang menyuguhkan kepolosan kanak dalam mengurai dunia. Masterpice yang lahir di tanah pengasingan di Amerika ini berkisah tentang seorang anak dari pelanet kerdil yang menjelajah alam semesta. Pembaca diajaak menyimak kisah-kisah yang ia tuturkan dengan bahasa yang sederhana.

Saat menjadi avonturir, Pangeran Cilik menjumpai banyak jenis orang dewasa. Ia bertemu pemabuk; raja tua yang gila kekuasaan; pengusaha tamak; hingga seekor rubah bijak dalam gua. Saint-Exupery meminjam pikiran naif kanak untuk membaca  dunia orang dewasa yang menipu.

Berkali-kali, ia menjumpai orang dewasa yang aneh, terlalu perhitungan, tidak menyenangkan, kaku, dan pragmatis. Sampai-sampai, dalam beberapa adegan Pangeran Cilik berkata, “Orang dewasa memang amat ganjil.”

Ketika mampir di planet asing, Pangeran Cilik bertemu pengusaha. Ia kebingungan dengan perilaku orang tersebut yang hanya sibuk menghitung kekayaan, bahkan untuk menggaruk punggung pun ia tidak sempat.

“Apa yang kaulakukan denga lima ratus juta bintang?” tanya Pangeran Cilik kala pengusaha tamak berkata bahwa bintang itu miliknya. “Dan apa gunanya memiliki bintang-bintang?”.  Pengusaha tamak menjawab, “Gunanya, aku kaya.” Pangeran Cilik tak puas, ia belum cukup mengerti, “Apa gunanya menjadi kaya?”, tanyanya lagi. Kata pengusaha tamak, “Untuk membeli bintang-bintang lain, jika ada yang menemukannya.” Pengusaha itu benar-benar mabuk harta, mungkin lebih mabuk dari Justin Bartha dalam film The Hangover.

Alih-alih kritik terhadap “profesionalisme” dan kapitalisme yang rakus, Saint-Exupery, menghajar si pengusaha tamak tersebut dengan hujaman pertanyaan yang terlontar dari isi kepala Pangeran Cilik.

Dalam karya Le Petit Prince, imajinasi dan rasa ingin tahu yang ada di kepala kanak menjadi senjata. Digali habis-habisan. Ia mengupas dunia yang menipu. Ia menguliti kejadian sederhana menjadi wacana yang menarik diperbincangkan. Sehingga tidak berlebihan jika suatu masa Einstein pernah berkata, “Imajinasi itu lebih hebat dan berdaya dari pengetahuan”.

Namun, di dunia riil, tidak semua anak dapat merasakan masa kanak yang imajinatif tersebut. Mereka tidak bisa menikmati naifnya imajinasi. Yang terjadi sebaliknya, desakan ekonomi dan tuntutan kebutuhan yang tinggi membuat banyak anak menukar waktu bermainnya dengan bekerja di jalan.

Alih-alih menikmati bangku sekolah, kepala mereka malah dibakar matahari lebih dari delapan jam untuk bekerja.  Seperti dituturkan Beritagar.id, tercatat, pada 2017 dari 84,4 juta populasi anak, 1,5 persen merupakan pekerja anak yang sama sekali tidak mengenyam bangku sekolah.

Anak-anak itu tdak bisa menikmati usia bermain dan mencipta. Mereka kehilangan masa kreatif dan imajinatif dan harus menanggung beban hidup yang sesungguhnya belum waktunya tiba. Dalam syair Gitanyali , Rabindranath Tagore, yang juga dikutip GM, menggambarkan kanak sebagai subjek yang tidak dibebani apa pun. Dalam syair tersebut Tagore menulis:

“Mereka tak pandai berenang, mereka tak sanggup membuang jala. Penyelam mutiara menyelami lokan saudagar berlayar dengan kepalanya. Tetapi kanak-kanak mengumpulkan batu dan membuangnya kembali. Mereka tidak mencari harta terpendam, mereka tidak pandai membuang jala.”

Waktu mereka direbut. Imajinasi yang seharusnya hadir terkerangkeng dalam kepayahan bekerja. Bagaimanapun, tak elok menyeret mereka ke dunia yang bengis dan pragmatis.

Sebagai tanjakan menuju kehidupan yang lebih matang seharusnya anak-anak dipupuk daya kreatifnya. Bukan malah diputus dan menerjunkannya ke dunia kerja. Mereka butuh perlindungan dan pengarahan ke hal-hal yang baik. Bukan eksploitasi. Di era modern, anak-anak kawasan urban-lah yang terbesar terdampak.

Jauh meninggalkan semua itu, saban 23 Juli, di Indonesia diperingati Hari Anak Nasional. Sebagian anak yang beruntung mendapat pendidikan merayakannya dengan suka cita. Namun, tentang hari itu, mereka yang sedang menyemir sepatu jelas tidak peduli. Anak-anak yang berjualan koran pada jam 9 pagi, akan bekerja seperti biasa. Atau mereka yang memikul karung beras, tetap beraroma keringat saat teman sebayanya yang lahir dari keluarga berpunya menerbangkan balon memperingati Hari Anak Nasional.

Penulis pemerhati anak-anak ini bernama Zaim Yunus,

Sumber gambar: http://klubtertawa.blogspot.com

Post Comment