PEMERINTAH TIDAK KONSISTEN DALAM PEMBANGUNAN BANDARA NYIA

Pembangunan bandara New Internasional Airport (NYIA) Kulon Progo menjadi salah satu bukti inkonsistensi pemerintah dalam mengawal pembangunan nasional. Bandara yang diharapkan dapat menjadi pengganti bandara Adi Sucipto ini menemui banyak perlawanan dari masyarakat.

Pengawalan dilakukan oleh masyarakat yang peduli lingkungan hidup. Beberapa dari mereka tergabung dalam Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulon Progo (PWPP-KP), Teman-Temon, WALHI, LBH, PBHI, NfSnDK, dan masih banyak yang lainnya. Bentuk Pengawalan dilakukan dalam bentuk turun ke-lapangan, melalui jalur negosiasi, jalur hukum, bahkan pemberian langsung surat kepada presiden. Bahkan, pengawalan yangbisa mengentikan proyek pembangunan beberapa bulan pun masih dilakukan hingga saat ini.

Pengawalan tersebut masih dilakukan karena lokasi pembangunan bandara masuk dalam zona merah, itu berarti bahwa daerah tersebut masuk dalam kategori yang rawan bencana dan tsunami. Selain itu, berdasarkan pernyataan presiden dalam detik.com yang dipublikasikan pada tanggal 02 Februari 2019 berjudul “Jokowi : Pembangunan Harus Berlandaskan Resiko Bencana” , presiden menjelaskan bahwa rancangan pembangunan ke depan harus berlandaskan pada aspek-aspek pengurangan resiko bencana.

Selain itu berdasakan sumber yang dilansir dari merdeka.com yang dipublikasikan pada 23 Juli 2019, berjudul “Jokowi Minta BMKG Tegas Larang Pembangunan Infrastruktur di Zona Merah Bencana”, presiden meminta BMKG menyampaikan kepada Pemda agar daerah yang rawan gempa, rawan banjir, jangan dibangun bandara, jangan dibangun bendungan, dan jangan dibangun perumahan. Presiden menghimbau pada BMKG agar memberikan edukasi kepada masyarakat secara intensif terkait dengan daerah rawan bencana alam.

Proyek Pembangunan Bandara NYIA masuk zona Merah

Berdasarkan hasil dari temuan yang dilakukan oleh Pusat Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan (LIPI), NYIA berada dalam zona merah. Pasalnya di dekat lokasi bandara tersebut terdapat deposit atau endapan tsunami.

Eko Yulianto, Kepala Geoteknologi LIPI mengatakan, temuan deposit di dekat NYIA diperkirakan berusia 300 tahun, seumuran dengan jejak pantai selatan Banten dan Jawa Barat, (dilansir dalam lipi.go.id berjudul Temuan LIPI Perkuat Bukti Pembangunan Bandara Kulon Progo di Kawasan Rawan Bencana). Selain itu dalam pemberitaan yang sama Eko menjelaskan bahwa potensi gempa di sini, berdasarkan sebaran deposit tsunami,  bisa lebih magnitude Sembilan (M9). Apabila tsunami seperti di Pantai Panggandaran kekuatan gempa lebih tinggi sedikit saja, bandara baru akan kena mulai bagian apron, terminal sampai runway-nya.

Eko juga menemukan sejumlah deposit lain missal 1698 tahun lalu, 2785 tahun lalu dan 3598 tahun lalu. Tsunami di Selatan Jawa diduga berulang yang menunjukkan zona kegempaan aktif.

Selain LIPI, Penliti Balai Teknologi Infrastruktur Pelabuhan dan Dinamika Pantai, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi UGM juga mengatakan hal yang sama. Berdasakan penelitian yang dilakukan Widjo dan Tim sepanjang 400 kilometer dari Pantai Panggandaran Jawa Barat hingga Jember mengenai dampak seberan tsunami Pangandaran ke pantai selatan Jawa. Peneliti UGM, Widjo mengatakan bahwa Lokasi bandara baru sangat rawan berdampak tsunami.

Hal itu disampaikan Widjo atas hasil temuannya, tsunami pangandaran membawa sedimen atau endapan dari laut sejauh 100-200 meter ke daratan padahal pada saat itu kekuatan tsunaminya memiliki magnitude 7,7, dengan ketinggian gelombang 5-6 meter.

Pembangunan Tetap Berjalan

Pembangunan proyek bandara NYIA terus berjalan hingga saat ini. Berdasarkan RPJMN 2015-2019, pemerintah menjadikan NYIA masuk dalam proyek strategis yang harus diselesaikan dalam waktu dekat. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah guna memperlancar proyek pembangunan tersebut yang berada dalam zona merah dengan merubah Peraturan Pemerintah Nomor 26 tahun 2008 menjadi PP No. 13 tahun 2017 tentang “Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional.” Dalam perubahan tersebut telah dihapus seluruh pasal yang berkaitan dengan pelarangan pembangunan di zona bencana.

Selain berada dalam zona merah, pembangunan bandara NYIA juga masih menyisakan dampak sosial-ekonomi bagi masyarakat yang digusur. Dampak yang dihasilkan tersebut, hingga saat ini masih belum selesai. Masyarakat terbelah menjadi dua kubu yang bersiteru. Banyak diantara mereka yang  kehilangan keluarga dan kerabatnya setelah terjadinya perbedaan pendapat pro-kontra akibat penggusuran bandara tersebut.

Tidak hanya itu, berdasarkan pengakuan dari salah satu kepala dusun saat ditemui jogjkita.net, masih banyak warganya yang belum memiliki pekerjaan baru hingga saat ini. Selama hampir 3 tahun, sejak penggusuran dilakukan. Mereka bertahan hidup hanya mengunakan uang sisa dari ganti rugi.

Janji pemerintah terkait dengan memberikan pendampingan dan pekerjaan terhadap korban penggusuran bandara hingga saat ini belum dilaksanakan. Beberapa warga yang melamar di bandara ditolak disebabkan kriteria yang dimiliki warga tidak sesuai dengan yang dibutuhkan oleh bandara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *