Kampung Wisata

AWAL MULA MUNCULNYA IDE KAMPUNG LAMPION

AWAL MULA MUNCULNYA IDE KAMPUNG LAMPION

“Ide untuk menjadikan kampung code ini menjadi kampung lampion berasal dari warga Code itu sendiri yaitu Bapak Miskam, Bapak Supri dan Bapak Sugeng” Ungkap Bapak Supri yang kami temui tanggal 20 April kemaren.[1]  Kampung lampion terbetuk karena ada sebuah lembaga dan komunitas yang tertarik dengan kampung Code yang berada di pinggiran Kali Code itu. Lembaga tersebut bernama CCES (Center for Civic Engagement & Studies). CCES merupakan suatu lembaga yang menaungi banyak komunitas di Yogyakarta, salah satu komunitas yang berada di bawah naungan lembaga CCES yaitu Komunitas Cemara. Pada saat itu lembaga  CCES memberikan tantangan  kepada warga Ledok Code untuk membuat kreasi yang bisa dinikmati oleh banyak orang dan bisa mensejahterakan kehidupan warga Ledok Code. Pada saat itulah warga Ledok Code sering mengadakan diskusi dengan Lembaga CCES  dan bahkan pernah mengadakan workshop, study banding, dengan komunitas-komunitas yang ada di Yogyakarta.

Mereka diperkenalkan dengan ide-ide untuk memperbaiki Kampung. Hal tersebut sebagai upaya penyadaran LSM kepada masyarakat pinggiran kali supaya semangat dalam memperbaiki kampungnya. Termasuk hal apa saja yang harus dilakukan masyarakat pinggiran kali agar dapat eksis seperti halnya kampung yang lain.  Agar pelabelan sebagai kampung kumuh dan kampung kriminal tidak lagi diberikan kepada mereka.

Beberapa pertanyaan yang diberikan oleh LSM CCES terkait dengan penyadaran tersebut. Mengapa pada tinggal di pinggiran Kali Code? Apa yang akan dibuat di pinggiran kali code? Kampung itu mau diapakan?. “Setelah mendapat pertanyaan tersebut kami pusing untuk membuat apa pada kampung kita” ujar Miskam yang saat itu mewakili masyarakat Ledok Code 18. Dalam pertemuan tersebut masing-masing masyarakat pinggiran kali mempresentasikan kondisi kampungnya masing-masing. Setelah mempresentasikan kondisi kampung. kemudian masyarakatdisuruh untuk membuat proposal terkait dengan program apa yang ingin diajukan untuk memperbaiki kampung masing-masing.

Kebingungan masyarakat yang mengikuti acara tersebut dibawa pulang. Tantangan dari lembaga CCES itu kemudian diceritakan kepada Komunitas Cemara. Komunitas Cemara memberikan saran dan ide sehingga kemudian masyarakat memiliki Ide untuk membuat kampung lampion, ide tersebut disampaikan kepada warga untuk dimusyawarahkan, meminta persetujuan, kerjasama dan dukungan dari warga sendiri. Ide kampung lampion inilah yang dibawa warga dalam pertemuan selanjutnya dengan LSM CCES. Warga mempresentasikan konsep pembuatan kampung lampion pada akhir tahun untuk memperbaiki kondisi kampung agar layak untuk dikunjungi. Waktu akhir tahun yang dipilih warga untuk memberikan hiburan kepada masyarakat pada meriahnya tahun baru. “masyarakat kampung Code ingin membuat kampung pinggiran kali itu menjadi indah, supaya masyarakat betah untuk malam baruan di kampung”, ucap Miskam.

Presentasi yang disampaikan warga kepada LSM CCES mendapatkan hasil yang memuaskan. Warga mendapatkan dana bantuan sebesar Rp4.000.000 untuk merealisasikan kampung lampion tersebut. Dana diterima masyarakat pada pertengahan juni 2015. Setelah mendapatkan dana dari CCES masyarakat mulai membuat lampion. Lampion dibuat dari bahan seadanya yang ada di kampong seperti bekas cat, keranjang kipas angin, dan barang bekas yang lainnya. Alasan mengunakan barang bekas adalah barangnya mudah dicari dan tidak membutuhkan biaya yang terlalu banyak, “menambah nilai kreatifitas dan seni warga,” imbuh Suryadi. Seluruh masyarakat berkontribusi dalam memeriahkan FKL tersebut. Mulai dari anak-anak sampai nenek-nenek. Tidak terkecuali laki-laki dan perempuan. Semuanya ikut untuk memeriahkan FKL.

Ide tersebut dapat diterima dengan baik oleh warga, sehingga pada bulan Agustus 2015 bisa melaksanakan launcing kampung lampion yang pada waktu itu masih dinamai Kampung Cahaya. Launcing Kampung Lampion tersebut berjalan dengan sukses.[2] Pembagian tugas dalam memeriahkan FKL pun dilakukan. Ibu-ibu dan anak-anak dilatih untuk menampilkan sesuatu dalam acara tersebut. Sehingga pada saat pementasan dan waktu FKL tiba, pengisi acara semuanya berasal dari masyarakat. Bapak-bapak dan pemuda mendapatkan tugas untuk mengecat dan membuat pernak-pernik lampion. Jadilah lampion yang dipasang pada bulan Agustus tahun 2015. Launcing kampung lampion yang dihadiri oleh Ibu Lurah, Pak Camat, DPRD Kota. Mereka memberi apresiasi dari kegiatan FKL tersebut.

Kemudian pada saat ulang tahun Jogja Masyarakat ditugaskan untuk membuat lampion. Masyarakat mendapat pesanan hampir 200 lampion. Satu lampion dijual seharga 50 ribu. Hasil penjualan tersebut digunakan sebagai modal pembuatan FKL berikutnya. Waktu itu ada yang diberi tugas mengecat dan lain lain. Modal tersebut digunakan untuk pembuatan FKL sebagai ruang untuk memamerkan kreatifitas warga. Akhirnya mereka membuat acara kampung lampion pada akhir tahun 2015. Tepatnya tanggal 28-31 Desember. Seluruh masyarakat dilibatkan dalam proses pembangunan kampung lampion. Orang tua hingga anak-anak ikut andil dalam proses pembangunan kampung. Pelibatan tersebut disesuaikan dengan usia dan kemampuan atau kapasitas warga. Ibu-ibu ditugaskan sebagai pembuat jamuan buat para pengunjung. Walaupun, sebagian dilibatkan juga dalam proses pengisi acara misalkan turut andil dalam melakukan paduan suara, tari-tarian, ketropakan, hingga jatilan. Sedangkan remaja putrinya difokuskan pada penjamu tamu, rias, dan mc. Pemuda dan bapak-bapak yang bertugas untuk menghias kampung supaya kampung terlihat menarik, sehingga banyak pengunjung yang datang ke sana. Sekaligus mereka yang bertugas untuk melakukan promosi kampung. Pencarian dana dan teknis yang lainnya pada penghiasan kampung diamanahkan kepada mereka. Anak-anak dilibatkan sebagai pengisi acara. Mereka menampilkan pertunjukan untuk menghibur pengunjung. Tentunya itu dilakukan dengan keciri khasan sifat kekanak-kanakan. Tugas tersebut dibagi dalam rapat besar kampung yang dilakukan setiap kamis, malam jum’at kliwon.

Tema yang diangkat oleh masyarakat seringkali diambil dari masalah-masalah yang ada disekitar mereka. Seperti: Code Berhati Nyaman, tema tersebut diangkat sebagai upaya menjelaskan kepada masyarakat luas bahwasannya warga Ledok Code tidak dapat dipandang sebelah mata. Warga menunjukkan kepada masyarakat luas dengan keterbatasan yang mereka miliki, mereka mampu menghadirkan sesuatu yang berbeda. Mereka merasa nyaman untuk tinggal di sana dan membuktikan kenyamanan tersebut dengan cara membuat kampung yang terkenal kumuh menjadi kampung yang indah dan layak dikunjungi. Selain itu, tema tersebut diangkat dalam upaya merubah pandangan masyarakat, terutama daerah Kota Baru dalam memandang masyarakat Ledok Code. Anggapan masyarakat yang cenderung negatif kepada masyarakat disana menjadi terminimalisir dengan adanya kampung lampion. Masyarakat yang dikenal sebagai jambret, pemabok, dan pusatnya para kriminal jogja menjadi baik setelah mereka berkunjung ke Ledok Code dengan melihat pemandangan masyarakat yang ramah dan sopan.

Kampung lampion juga pernah mengangkat tema: ‘Dulu, Kini, dan Nanti’. Tema tersebut sebagai sejarah berkembangnya kampung. Kampung yang dulunya berupa hutan belantara menjadi kampung yang indah. Dan tema tersebut sebagai motivasi warga agar selalu melakukan hal yang terbaik, dan melakukan perbaikan kepada kampungnya. Masyarakat mempunyai mimpi bahwasannya suatu saat nanti, kampungnya menjadi kampung yang berdaya, menjadi rujukan kampung di Jogja. Keberadaan mereka dipinggiran Kali menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka ketika nantinya impian mereka untuk menjadikan kampung mandiri dan kampung wisata terwujud. Semangat disampaikan oleh Supri yang sekaligus menjadi RT 18 sekarang. Supri merasa bahwa potensi yang dimiliki masyarakatnya sangatlah tinggi dibandingkan dengan masyarakat kampung yang lain. Namun, selama ini memang belum terlihat. Hal itu terjadi karena masyarakat kurang mendapatkan perhatian dan motivasi dari pemerintahan setempat. Dan nantinya akan menjadi kampung wisata, sesuai yang direncanakan sebelumnya.

Kampung Lampion berada di Ledok Code 18/04, Kotabaru, Gondokusuman Yogyakarta.

                [1]Wawancara dengan Bapak Supri, Ketua RT 18, 20 April 2018.

                [2]Wawancara dengan Mbak Lorca, Anggota Komunitas Cemara, 22 April 2018.

Post Comment