KAMPUNG MATARAMAN ; MEMBANGUN EKONOMI RAKYAT MELALUI KAMPUNG WISATA

Sebagai sumber energi baru, banyak negara menganggap sektor pariwisata cukup menjanjikan pertumbuhan ekonomi. Di Indonesia sendiri punya banyak potensi untuk menjadi terdepan di sektor pariwisata ini.

Ketika mendengar kata pariwisata, Jogja menjadi daftar  teratas destinasi wisata populer di Inonesia setelah Bali.

Kalau kita berkunjung ke Jogja kemungkinan besar lokasi utama untuk berwisata cenderung itu-itu saja. Misalnya Malioboro, tugu jogja, pantai parangtritis dsb.

Bukan Jogja namanya jika tidak mampu membuat menciptakan ide-ide kreatif dan berani tampil beda dari yang lain. Kini, ada sebuah lokasi wisata baru yang mengusung restoran unik tanpa melupakan budaya tradisional yang menjadi ciri khasnya. Lokasi wisata ini berada di Panggungharjo, Kec. Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Desa wisata ini bernama Kampung Mataraman. Mungkin yang terlintas dibenak kita pertama kali adalah seperti apa kampung Mataraman ini?  Destinasi apa yang ditawarkan sehingga kampung Mataraman ini di sebut desa wisata ? Oke,  untuk menjawab rasa penasaran kalian,  mari kita mulai  ceritanya ya !

Kampung Mataraman ini merupakan Destinasi wisata bernuansa desa dengan menggunakan konsep rumah makan unik. Ya, rumah makan. Tapi jangan berharap kalian bisa menemukan konsep restoran mewah seperti di tayangan TV. Kampung Mataraman ini mampu memberikan cita rasa tradisional yang mengingatkan kembali akan kerinduan terhadap Jogja.

Memasuki Kampung Mataraman ini kita akan melewati sebuah gapura besar yang terbuat dari bambu yang seolah menyambut antusias para pengunjung. Setelah masuk ke lokasi kampung Mataraman, kita akan melihat banyaknya kursi dan meja makan yang terbuat dari pohon tua dan tentu ini memberikan kesan natural dan alami (konsep back to nature). Menelusuri kampung Mataraman ini kita benar-benar dimanjakan dengan nuansa pedesaan yang asri. Rumah makan di kampung Mataraman dikelilingi banyak sekali pohon-pohon tinggi yang menambah udara sejuk. Semakin ke dalam menjajaki kampung Mataraman ini, kita akan melihat Jembatan yang terbuat dari bambu dan dilengkapi dengan kincir angin yang menambah keistimewaan kampung Mataraman ini. Dibawah jembatan tersebut ada sebuah saluran air  kecil dengan air nan jernih, selain itu ada pula lahan yang disiapkan untuk pengunjung berwisata edukasi. Sembari menikmati makanan tradisional, pengunjung juga bisa sekaligus outbond.

Eits, saya lupa. Di bagian depan dari Kampung Mataraman ini ada  semacam terowongan yang bertapkan bambu dan tentu Instagrammable atau lokasinfoto yang bagus  untuk postingan di instagran lah pokoknya.

Ketika kita sampai di lokasi utama dari Kampung Mataraman, kita akan  bertemu dengan seuumlah bangunan. Apa saja bangunan utama ini?

Ada yang namanya “limasan” atau semacam hall dengan nuansa tempo  dulu, rumah joglo yang masih berbentuk asli, tanpa modifikasi. Limasan  ini bisa menjadi tempat kita menggelar pertemuan semisal arisan atau  reunian. Duduknya? Lesehan.

Di sebelah limasan ada tiga bangunan berjejer. Bangunannya masih asli  Jawa juga. Yang paling depan adalah warung makan. Tempat kita membeli  atau memesan makanan. Nah, di sebelahnya lagi atau yang berada di  tengah-tengah adalah dapur tempat memasak.

Di dapur ini tempat menyimpan sayuran, bahan masak dan juga tempat  para ibu-ibu dan warga desa lainnya menyiapkan masakan. Cara menyiapkan  masih tradisional. Masih menggunakan arang, dan kalau darurat ya tetap  pakai kompor juga sih sebenarnya.

DI bagian sebelahnya lagi, adalah tempat yang akan dipakai sebagai kantor atau tempat untuk mengelola kantor ini.

Semakin kita masuk ke dalam, nuansa desanya akan semakin terasa. Ada  kolam ikan dengan jembatan bambunya. Tidak hanya itu, jalan di bagian  dalam Kampung Mataraman ini, masih terbuat dari batu alam. Keren sekali  memang tempatnya. Nuansa desanya sangat terasa dengan lingkungan asri.

Apa yang menarik dari Kampung Mataraman ini selain lokasinya yang masih benar-benar bercirikan desa yang asli?

Yang menarik perhatian dari Kampung Mataraman ini adalah  pembangunannya yang menggunakan dana desa melalui Badan Usaha Milik Desa  atau Bumdes Panggung Lestari.

Semenjak tahun 2014 lalu, Undang-undang Desa  mulai diberlakukan. Salah satu guna dari Undang-undang Desa ini adalah  untuk memajukan pedesaan.

Melalui Badan Usaha Milik Desa atau Bumdes, dana desa kemudian  dimanfaatkaan untuk pemberdayaan masyarakat desa. Salah satunya dengan  membangun kawasan wisata seperti Kampung Mataraman ini.

Kampung Mataraman ini sendiri, memanfaatkan tanah kas desa seluas  enam hektare. Sangat luas. Dan yang kerennya lagi adalah, yang bekerja  di Kampung yang mengambil konsep desa di era kerajaan Mataram ini,  adalah warga setempat atau warga Desa Panggung Harjo.

Kampung Mataraman ini memang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat  setempat. Mulai dari memasak, menyajikan makanan hingga merawat Kampung  Mataraman ini dilakukan oleh Warga Desa Panggungharjo. Tidak ada warga  lain. Dengan adanya Kampung Mataraman ini, masyarakat desa bisa merasakan manfaat dari Dana Desa. Oleh sebab itu, Mataraman menjadi salah satu sektor pariwisata unggulan Jogja.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *