KEMERDEKAAN YANG MEMBINGGUNGKAN

Sebagai anak bangsa yang terlahir jauh dari peristiwa 1948, 1949, dan 1965 menyisakan sebuah pertanyaan besar terkait dengan berdirinya negeri ini dan segala kisah misteri di dalamnya. Kami tumbuh besar di tahun 2000 an, dan bisa menjalankan nalar secara sehat terkait dengan persoalan bangsa di pertengahan masa pemerintahan Jokowi-JK.

Banyak orang menghukumi kami sebagai generasi milineal, yang banyak menghabiskan waktu di depan gadget dan berselancar di dunia maya. Anak baru lahir yang tidak menemui propaganda fisik, minimalnya seperti pada tahun 1998 pada masa pemerintahan otoriter. Banyak yang bilang masa sekarang lebih enak daripada dulu sebelum reformasi. Yang hak kebebasan berekspresi dibatasi dan berada di garis oposisi terancam hukuman mati.

Semua imajinasi enak tersebut tak pernah kami rasakan hingga detik ini. Buruknya sistem birokrasi yang oligarkis masih ditemui di sana-sini. Pejabat yang hanya mementingkan kepentingan pribadi masih mendominasi pemeritahan yang ada di negeri ini. Biaya pendidikan semakin bertambah tahun semakin tidak tahu diri. Jaminan kesehatan yang diberikan masih berputar pada kasus korupsi. Dan tatanan ekonomi yang tidak pernah memihak pada rakyat sama sekali.

Imajinasi kemerdekaan dan enaknya hidup setelah merdeka seperti yang ada dalam buku-buku sejarah tidak terwakili sama sekali. Kami besar dihadapkan dengan pertikaian kelompok politik yang didominasi nalar pragmatisme bukan nalar ideologis membangun besar apalagi berfikir menjadi negara besar.

Berdasarkan hasil penelitian yang tertulis dibeberapa jurnal, negeri ini adalah negeri yang besar dengan kekayaan sumberdaya alam yang tidak akan habis dimanfaatkan tujuh turunan. Koesplus sampai mengindahkan imajinasi itu dalam sebuah lagunya. Negeri kita bagaikan surga, tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman. Tentu imajinasi yang diberikan Koesplus itu tidak berlaku bagi anak bangsa yang lahir seusia kami.

Kami lahir dihadapkan dengan sebuah fenomena kemiskinan baru. Kemerdekaan yang tidak berdasarkan kedaulatan rakyat apalagi kedaulatan pangan. Seingatku semasa masih duduk di sekolah dasar, krisis ekonomi tahun 2006 yang menyebabkan harga kebutuhan pokok naik, dan sekaligus sebagai pertanda bangkrutnya usaha roti milik bapakku. Setelah itu ada perpanjangan kontrak freeport, kenaikan harga BBM yang menuntut kenaikan kebutuhan dasar yang lain. Beberapa lahan pekarangan masyarakat harus dijual karena ingin didirikan pembangkit listrik. Beberapa tanah rakyat hasil transmigrasi dipaksa harus dijual kepada pengusaha yang menjadi penguasa negeri. Entahlah, imajinasi itu hanya menjadi halusinasi.

Mereka marah ketika kami duduk sebagai mahasiswa dianggap tidak kritis dan tidak dapat menciptakan sebuah reformasi. Dianggap sebuah kaum yang apatis yang tidak mengetahui persoalan negeri. Dianggap sebagai pengecut karena takut dengan gertakan dan ancaman penguasa negeri.

Sudahlah bung, jangan mengebu-ngebu saat membahas hal seperti itu, coba bung berada di posisi kami. Saya yakin bung akan mengalami kebinggungan atas semua yang bung lakukan sendiri.

Gimana tidak binggung, ketika membaca referensi terkait berdirinya negeri, katanya banyak versi. Masing-masing versi menjelaskan sesuai kepentingannya sendiri . Satu individu (kelompok) bisa memerankan dua watak sekaligus. Bisa menjadi pahlawan bisa pula menjadi penghianat atau pemberontak negeri. Tinggal siapa yang menulis cerita tentunya, dan kepentingan politik jelasnya. Padahal semua kelompok tersebut memiliki misi yang sama, membawa negeri ini lebih baik, meningkatkan kesejahteraan rakyatnya, berdaulat adil dan makmur, dan keadilan sosial tercipta.

Anehnya, kenapa semua kelompok tersebut dianggap sebagai pemberontak atau penghianat. Padahal saat berjuang melawan penjajah bersamaan. Meneriakkan kemerdekaan pun bersama-sama. Kenapa yang satunya dikatakan pemberontak? atas landasan apa mereka disebut sebagai pemberontak? Apa benar orang yang tulus memerdekakan bangsa ingin membuat makar atas bangsanya sendiri ? lantas siapa sebenarnya yang memberontak? Siapa sebenarnya yang egois dan rakus sehingga menghabisi yang lainnya atas dasar kerakyatan?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu memenuhi isi kepala dan belum mendapatkan sebuah jawaban yang menyegarkan. Pasalnya, saat belajar Islam dengan benar dan kaffah masih ditakutkan menjadi seorang Islam jihadis yang dilebeli teroris. Saat belajar sosialisme dikhawatirkan dan diidentikkan menjadi komunis yang anti agama dan tentu dianggap sebagai penghianat negara seperti memeor pada tahun 1965. Tapi, saat tidak membca itu semua dianggap lemah dan tidak mempunyai wawasan yang luas.

Lantas, darimana harus memulai untuk mengerti negeri ini secara mendalam?

Sejarah kita banyak mengandung unsur politis yang konspiratif. Ceritanya berdasarkan kepentingan kelompok masing-masing. Beberapa karya ilmiah yang ditulis berdasarkan penelitian pun harus diseleksi untuk dipasarkan. Beberapa cerita yang ada di buku pelajaran pun masih jauh dari standard ke-objektifan.

Setidaknya ada beberapa hal yang bisa ku petik dari sebuah kebinggungan itu. Negeri ini pernah dipimpin oleh seorang penguasa yang konspiratif. Mengorbankan orang lain untuk kepentingan diri dan kelompoknya sendiri. Negeri ini dibangun oleh orang-orang yang ikhlas, yang bersusah payah mengorbankan harta dan pikirannya untuk kemerdekaan tapi dihujani hujatan oleh negeri yang ia merdekakan, sehingga mereka dianggap sebagai penghianat dan tidak diberikan konpensasi sama sekali.

Mungkin kata ini bisa mewakili perkembangan negeri hingga saat ini. Berjalannya negeri ini hingga seperti saat ini, mungkin dikarenakan orang yang benar-benar tulus berjuang memikirkan bangsa tidak diberi ruang untuk hidup dan bahkan dimatikan. Wajar saja kalau peliknya permasalahan negeri tidak pernah terselesaikan. Pasalnya orang-orang yang berjuang untuk kemerdekaan dan mempunyai sifat zuhud tidak mempunyai peluang untuk bekembang biak dan bernafas panjang.

Selamat atas kemerdekaan RI ke-74.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *