Wawasan

MASJID SYUHADA MONUMEN PERJUANGAN MASYARAKAT JOGJA

MASJID SYUHADA MONUMEN PERJUANGAN MASYARAKAT JOGJA

Sebagian besar masyarakat Jogja tahu keberadaan Masjid Syuhada. Entah karena letaknya yang strategis di tengah kota atau masifnya kegiatan-kegiatan yang diadakan di sana. Ketika mereka ditanya keberadaan Masjid ini, pastinya mereka akan menjawab bahwa letaknya di Jalan I Dewa Nyoman Oka , No 13, Kotabaru, Gondokusuman. Dekat dengan Tugu Jogja dan Lapangan Kridosono.

Kemasyhuran masjid tersebut memang tidak diragukan lagi oleh masyarakat Jogja. Namun, sejarah berdirinya masjid ini tidak banyak diketahui oleh orang. Dalam tulisan ini, penulis akan mengulas sejarah berdirinya Masjid Syuhada yang konon memiliki nilai perjuangan yang tinggi. Terlebih, berhubungan dengan  beridirinya Negara Republik Indonesia.

Masjid Syuhada berdiri pada 20 September 1952. Tepat ketika selesainya peristiwa agresi militer ke-dua yang dilakukan Belanda. Berdasarkan sumber literatur yang penulis temukan, masjid ini merupakan hadiah dari pemerintah Indonesia bagi pejuang Jogjakarta yang telah menyelamatkan Ke-utuhan Negara Republik Indonesia. Perlu diketahui juga kenapa masyarakat Jogja diberi hadiah monumen yang berebentuk masjid ini ?

Pada 4 Januari 1946 Ibukota Indonesia dipindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Pemindahan tersebut didasarkan karena kondisi pemrintahan Indonesia belum stabil. Pasukan Belanda Netherlands Indies Civil Administrasion (NICA) melakukan penyerangan kembali kepada Indonesia, karena mereka masih merasa bahwa Indonesia belum merdeka dan masih di bawah jajahannya. Di sisi lain, awal kemerdekaan tersebut terjadi perbedaan pendapat antar pimpinan negara, yang berujung pada penculikan.

Peristiwa tersebut semakin memperkeruh kondisi bangsa Indonesia. Hingga akhirnya Sultan Hamengkubuwono IX dan Pakualaman pada tanggal 2 Januari 1946 memberikan surat pada Soekarno prihal tawaran pemindahan Ibukota dari Jakarta ke Yogyakarta. Tawaran tersebut akhirnya, disambut baik oleh Soekarno dan pemindahan Ibukota Indonesia melalui jalur kereta api.

Di Yogyakarta inilah wajah baru Indonesia di mulai.

Pindahnya pemerintahan di Yogyakarta bukan berati tidak ada masalah. Jepang masih menjalankan operasi di kota ini. Bala tentara Indonesia yang dipimpin langsung oleh Sultan Hamengkubuwono IX melakukan perlawanan terhadap penjajah. Dan puncaknya kondisi tersebut pada saat agresi militer ke-2 yang berujung pada Perjanjian Renvile. Atas jasa masyarakat Yogyakarta tersebut Soekarno memberikan apresiasi dengan pendirian monumen yang berupa masjid. Sebagai upaya mengenang pahlawan yang berjuang di Kotabaru maka nama jalan yang ada disekelilingnya bernama para pahlawan yang gugur pada 7 Oktokber 1945 saat masyarakat Jogja melawan pemerintahan tentara jepang. Diantaranya adalah I Dewa Nyoman Oka, Atmosukarto, Abu bakar Ali, Sabirin.


Berdirinya Masjid Syuhada JOGJA

Munculnya gagasan pemberian hadiah pembangunan Monumen Masjid muncul dari sebuah pengajian yang dilaksanakan di rumah Muh. Joeber Prawiroyuwono. Pembahasan pada saat itu berkenaan dengan kenang-kenangan yang akan diberikan oleh pemerintah RI kepada masyarakat Yogyakarta.

Kepanitaan pendirian masjid diketuai oleh Mr Assat, kepanitiaan ini terdiri dari 17 orang sehingga dikenal sebagai panitia 17. Pembentukan kepanitiaan dilakukan di rumah M. Prawirojuwono, dan diresmikan oleh mentri agama KH Masjkur pada tanggal 14 Oktokber 1949. Kantor kepanitiaannya berada di Jalan Ngabean No. 49.

Setelah terbentuknya panitia secara resmi, panitia selanjutnya melangkah pada perhimpunan dana. Dana dihimpun dari tokoh dermawan yang ada di lingkungan Yogyakarta, menginggat kondisi negara pada saat itu sedang mengalami krisis pasca perang Agresi Militer ke-dua. Pertambahan sokong dana juga diberikan oleh masyarakat yang berada di luar masyarakat Yogyakarta. Bahkan, pembagunan masjid juga diberi bantuan dari Pakistan berupa 24 lembar permadani produksi.

Perkiraan awal, pembangunan menghabiskan dana 1.000.000 dan realisasi pembelanjaannya mengeluarkan dana sebesar 1.261.499,58. Itupun belum ditambah dengan pembeliaan barang inventaris masjid sebesar 127.791.65. Mlesetnya pembiayaan tersebut dikarenakan harga barang bangunan yang belum stabil pasca terjadinya krisis. Barang masih mengalami naik-turun, sehingga para pekerja bangunan pun dipaksa harus naik juga.

Peletakan batu pertama dilakukan oleh Sultan Hamengkubuwono IX pada tanggal 23 September 1950. Selain itu dihadiri juga oleh Mr. Sjafruddin Prawiranegara dan Sri Paku Alam VIII. Proses pengerjaan memakan waktu yang cukup lama, kurang lebih 2 tahun dari proses peletakan batu pertama dan selesai pada tanggal 20 September 1952. Adapun pemberian nama Syuhada diambilkan dari para pejuang muslim yang gugur di medan pertempuran kalau alam istilah Islam-nya di sebut Syuhada.

Post Comment