MENELAAH KEMBALI MAKNA DAN NILAI KURBAN

Setiap tanggal 10 Dzuhijah, Masyarakat muslim sedunia merayakan ‘Iid Al Adhaa. Nama lainnya, yaitu ‘Iid Al Kabiir (Yaman, Syria, Palestine, dan Utara Afrika), ‘Id Al Qurbaan (Iran, Afganistan), ‘Iid Al Kabiir (Maghrib), Kurban Bayramı (Turki), ‘Iid Al Baqarah (Mesir, Saudi), dan ‘Iid Al Haajj (Bahrain). Secara etimologis, Kata ‘id berarti perayaan, hari berpesta.  Kata ‘Iid satu akar dengan ‘aada –ya’uudu yang bermakna kembali, juga berkaitan dengan kata ‘aadah (kebiasaan). Maka dalam suatu peristiwa yang diberi nama ‘Iid memiliki dimensi peringatan mengenang suatu peristiwa besar di masa lalu. Bahkan dengan nilai yang begitu penting peristiwa ini diperingati dengan perayaan. Selain itu dalam ‘Iid terkandung sifat bahagia, senang (Sa’iid) yang mewujudkan kebahagian bagi yang memperingatinya (Sa’adah), baik personal maupun kolektif.

Sedangkan kata Al Adhaa bermakna pengorbanan dengan hewan dari kata Dhahha-yudhahhi yang berarti mengorbankan. Kata ini berakar pada kata Dhahawa (waktu siang)dan Dhuha (saat matahari naik). Dimensi waktu ini menunjukkan waktu peringatan peristiwa khasnya, yaitu pengorbanan dengan hewan kepada Allah SWT saat matahari telah naik selepas melaksanakan shalat sunah ‘Iid Al Adhaa. Sementara kata Qurban juga memiliki makna pengorbanan dengan sesuatu. Namun, akar kata ini lebih berkaitan dengan dimensi spiritual, sebab medan semantisnya berkaitan dengan kata qarraba yang bermakna mendekatkan. Dalam peristiwa Qurban selalu ditujukan untuk mendekati yang dituju, yaitu Allah SWT (taqarrub).     

Secara istilah, Iid Al Adhaa merupakan perayaan pada tanggal 10 Dzulhijjah sebagai puncak dari ritual ibadah haji. Muslim seluruh dunia pada hari itu, baik yang berhaji maupun tidak, melaksanakan shalat 2 rakaat pada pagi harinya, dilanjutkan melakukan penyembelihan hewan yang telah ditentukan kriterianya sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT. Daging hasil sembelihan kemudian dibagikan kepada kaum muslimin dan masyarakat umum, termasuk non-muslim, sebagaimana firman Allah Q.S Al Mumtahanah : 8 serta berbagai riwayat hadis, diantaranya riwayat ‘Abdullah ibn ‘Amr dari Mujahid tentang memberi daging sembelihan pada Nasrani dan Yahudi.  

Perintah Berkurban

Sejatinya Ibadah kurban, bukanlah sesuatu yang baru sebab pelaksanaannya telah ada selama ribuan tahun lalu. Menurut M.Quraish Shihab, kurban adalah jenis ibadah yang paling tua. Dalam konteks umum, Kurban sudah ada pada masa Adam As, yang diketahui lewat firman Allah SWT mengenai Qabil dan Habil (Q.S 5: 27-31). Hal ini didasari keinginan Qabil menikahi saudara kembarnya, Iqlima, lantas kemudian Adam As menyuruh mereka berdua berkurban dan akhirnya kurban Habillah yang diterima. Habil saat itu berkurban Hewan, sebab ia petani dan Qabil berkurban hasil tani sebab ia petani (Lihat Ibn Katsir, Qasas Al Anbiya/I/38; Al Thabari, Jami’ Al Bayan/VIII/316; Al Qurthubi, Jami’ Al Ahkaam/VI/88). Pada konteks yang lebih khusus, peristiwa pengorbanan Ibrahim As dan Isma’il As memiliki hubungan erat dengan ritual ibadah kurban hari ini yang disyariatkan sejak zaman Rasulullah Saw. Keimanan Ibrahim As dan Isma’il As mendapatkan ujian yang luarbiasa. Lama tidak memiliki keturunan, Ibrahim As yang diberikan Isma’il oleh Allah SWT pada usia lanjut, diperintahkan untuk menyembelih anaknya. Namun kemudian dengan kuasa Allah SWT, Isma’il As yang hendak disembelih diganti dengan kibas (Lihat Q.S Al Shaffat: 102-107)

Landasan ibadah kurban selain kedua peristiwa historis (yang juga terekam oleh Al Qur’an)  tersebut, secara lugas Allah SWT nyatakan dalam firman-Nya Q.S Al Kautsar: 2,”Fa Shalli Li Rabbi wa Al Anhar (Maka Dirikanlah olehmu shalat karena Tuhanmu dan Berkurbanlah)”. Selain itu perintah kurban juga terdapat pada Q.S Al Hajj : 34-36. Nabi Muhammad Saw dalam hadisnya, mengisyaratkan secara tegas ibadah ini untuk dilaksanakan oleh kaum muslimin. Diantaranya hadis Abu Hurairah (H.R Ahmad, Ibn Majah), Zaid Ibn Arqam (H.R Ahmad, Ibn Majah), dan Jubair ibn Mut’im (H.R Ahmad).

Dimensi Spiritual, Emosional, dan Sosial Kurban

Kurban adalah ibadah multi-dimensi, sebagaimana ibadah zakat. Keberadaannya selalu dilekatkan dengan shalat, bahkan nabi mengancam orang muslim mampu yang tidak mau berkurban (H.R Ahmad dari Abu Hurairah). Sebagaimana ibadah lainnya, kurban hanya diniatkan dan ditujukan semata-semata untuk mengharap ridha dan rahmat-Nya. Namun dalam spektrum yang lebih luas ibadah kurban yang dilandasi taqarrub ilaa Allah, seyogyanya memiliki dampak massif dan kerangka nilai keberagamaan yang hakiki yang mesti dihayati. Penghayatan kurban adalah kemestian, sebab kurban mencirikan rasa kesyukuran atas limpahan keberkahan dari Tuhan (Q.S Al Kautsar: 1) yang mustahil manusia hitung (Q.S Al Nahl: 18).

Setidaknya dalam kurban terdapat 3 dimensi, yaitu spiritual, emosional, dan sosial yang saling berkelindan. Pada dimensi spiritual, seorang muslim yang diberikan nikmat oleh Allah SWT mesti mendekatkan dirinya (qaraba) sebagai rasa syukur dan kurban merupakan salah satu bentuk keseriusan menunjukkan rasa syukurnya. Niat kurban hanya ditujukan kepada Allah SWT dengan semurni-murninya (tidak syirik), bukan sembelihan yang kepada selai-Nya, sebagaimana diperbuat orang-orang jahiliyah kepada Berhala (Ibn Katsir, Al Qur’an Al ‘Aziim/VII/673 ; Al Ibn ‘Asyur, Al Tahrir wa Al Tanwir/XXX/575). Bersama shalat, kurban ditujukan khusus mengingat Allah SWT, sehingga termasuk ibadah yang utama dan cara terbaik dalam muraqabah. As-Sa’di menyebutkan bila shalat adalah ibadah yang mengandung ketundukan pada hati dan anggota gerak, maka kurban adalah mendekatkan diri dengan sesuatu yang terbaik disisinya, yaitu mengeluarkan harta untuk berkurban sebagai bentuk bukti cinta (Taisir Kariim Al Rahmaan/I/1106).

Pada dimensi emosional, sohibul qurban akan mendapatkan banyak hal postif. Pertama, penghayatan pada penyembelihan hewan seyogyanya dapat menumbukan kesadaran akan juga pentingnya ‘menyembelih’ nafsu hewani yang seringkali menguasai jiwa. Maka, terdapat sunah bagi sahibul qurban menyembelih sendiri hewan kurbannya agar benih emosi positif terbangun dalam jiwa sohibul qurban. Kedua, proses penyembelihan hewan yang mesti dilaksanakan dengan cara yang benar (haqq) dan baik lagi tepat (ma’ruf) memberikan pelajaran psikis yang luarbiasa. Alat yang tajam dan proses yang tidak menyakiti hewan diantara adab yang mesti tegak, sehingga proses penyembelihan bukan sekadar pemenuhan nafsu belaka, sebagaimana beberapa kejadian yang membuat hewan tersiksa, mengamuk, dan sebagainnya. Pada akhirnya prosesi kurban yang tenang dan sabar serta menjauhi nafsu amarah akan berbekas pada sohibul qurban. Ketiga, kurban sebagai kegiatan memberi dapat membuat situasi kejiwaan lebih baik dengan menghadirkan rasa senang dan bahagia yang dapat mengikis emosi-emosi negatif. Dalam konteks kurban, sohibul qurban akan mendapat hal tersebut bila ibadahnya diniatkan dan dilaksanakan secara benar dan tepat.    

Pada dimensi sosial, kurban mempunyai peran penting bagi kohesi masyarakat secara luas sebab beberapa hal. Pertama, kurban memiliki dampak positif pada bangunan komunitas internal dan eksternal. Berbeda dari zakat, hasil kurban berupa daging dapat dinikmati berbagai kalangan, tanpa melirik status sosial bahkan agama. Kedua, pelaksanaan kurban meniscayakan gotong royong, baik dari proses pengadaan sampai penyembelihan dan pembagian. Konsep kambing bagi satu orang, sapi bagi tujuh orang, dan unta bagi sepuluh orang sohibul qurban menyebabkan munculnya ikatan sebagai rasa melaksanakan ibadah bersama. Ketiga, kurban dapat menjadi wahana edukasi sosial bagi anak-anak dan remaja. Dalam rangkain prosesnya, mereka bisa belajar berbagai hal, diantaranya saling berbagai, saling bekerjasama dalam bingkai ibadah personal-kolektif yang integral.

Ketiga dimensi tersebut saling berkelindan dan tidak terpisah. Nilai ketiganya senantiasa mengukuhkan habl min Allah sekaligus habl min al nass. Teringat pesan guru bangsa, Gus Dur,”guru realitasku adalah spitualitas, dan guru spritualitasku adalah realitas” dan kurban mengandung keduanya. Semoga momentum ‘Iid Al Adhaa kali ini memberi tambahan jejak positif pada dimensi spiritual, emosional, serta sosial kita. Aamiin. 

Khairul Amin adalah Pengajar Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta, Quranic Institute PBH (Perpustakaan Baitul Hikmah) Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *