Wawasan

MENGENAL LEBIH DEKAT MANGUNWIJAYA

MENGENAL LEBIH DEKAT MANGUNWIJAYA

Tiga tahun yang lalu, saya memulai kegiatan di bantaran kali Code Jogja. Tepatnya di belakang Masjid Syuhada, yang kebetulan pada masa itu menjadi tempat singgahku pertama kalinya di Jogja. Sebagai seorang mahasiswa sosial, salah satu kampus di Jogja dan anak asrama Masjid Syuhada kurang etis rasanya jika tidak mengenal masyarakat yang ada di sekitarnya.

Satu hal yang bisa saya lakukan dulu bersama teman, ketika memulai berinteraksi dengan masyarakat dengan mengajarkan ilmu qur’an (TPA). Mungkin bekal ilmu itu yang sedikit ku miliki dari hasil nyantri dulu sebelum ke Jogja. Hingga pada akhirnya diskursus mengenai kali Code terbawa sampai ke ruang kampus.

Banyak teman mahasiswa dan akademisi selalu berbicara Mangunwijaya taatkala membahas kali Code dan humanisme Jogja. Sebagai mahasiswa baru yang belum terlalu akrab dengan buku, saya pun menjadi penasaran tentang sosok itu. Siapa Mangunwijaya? Pikirku saat beberapa kali namanya disebut.

Hasil penelusuruanku ternyata beliau adalah seorang Roma atau Pastor agama Katolik yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap rakyat, terutama masyarakat bantaran kali Code. Sebagai seorang pastor, beliau memilih tinggal bersama rakyat daripada hidup di kepastoran. Visi-misi hidupnya pun sangat luar biasa dengan komitmennya terhadap rakyat. Hal itu dibuktikannya dengan membela masyarakat bantaran kali manakala mereka mau digusur oleh pemerintah. Mangunwijaya pula yang membuat arsitektur bangunan masyarakat bantaran kali Code agar tidak mudah terseret banjir. Hasil karyanya itu yang membuatnya dianugerahi Aga Khan Award, sebuah penghargaan bagi konsep arsitektur yang ramah lingkungan dan mewadahi aspirasi rakyat, diterimanya pada tahun 1992.

Tidak hanya itu, Mangunwijaya juga menjadi pelopor berdirinya sekolah rakyat yang diberi nama Sekolah Dasar Kanisius Eksperimental Mangunan. Humanisme yang dimiliki Mangunwijaya diterapakan di sekolah ini. Sekolah ini mencoba mengunakan kurikulum yang humanis, sebuah metode pendidikan yang lebih terfokus pada bekal keterampilan siswa agar dapat mengolah pikir dan mengolah badan yang diharapkan siswa memiliki pribadi yang mumpuni dalam menghadapi kehidupan yang serba komplek ini. Komitmen Mangunwijaya terhadap kaum marginal di Code yang membuatnya di anugerahi The Ruth and Ralph Eskrine Followship tahun 1995.

Seseorang yang mempunyai nama lengkap Yusuf Bilyarta Mangunwijaya ini lahir di Ambarawa, 6 Mei 1929. Mangunwijaya mulai mengenyam pendidikan pada usia tujuh tahun di HIS Fransiscus Xaverius Muntilan, Magelang. Setelah itu, ia juga melanjutkan selokah di SMU-B Santo Albertus Malang dan lulus pada tahun 1947. Ketertarikan Mangunwijaya terhadap pelayanan Gereja Katolik yang membuatnya memutusakan unutk masuk seminari dan menjadi pastor pada usia yang masih muda (21 tahun). Saat itu, dirinya masuk dalam seminari Yogyakarta.

Dilansir dari tirto.id terkait wawancaranya dengan Toto Rahardjo salah seorang teman sekaligus murid Mangunwijajaya. Dia menjelaskan alasan Mangunwijaya memutuskan untuk menjadi pastor karena 80% kegiatan yang dilakukan oleh pastor dekat dengan rakyat kecil. Kalau dalam Islam namanya pesantren tuturnya.

Pada tahun 1959 Mangunwijaya melanjutkan pendidikannya dalam bidang arsitektur di Institute Teknologi Bandung. Kecintaannya dalam dunia arsitektur dan ilmu pengetahuan yang akhirnya membuatnya berangkat ke Reinisch Wesfaelische Technische Hochchule Archen, Jerman untuk mendalami ilmu arsitektur dan menghabiskan waktu 6 tahun. Dari tahun 1960 sampai 1966. Setelah kepulangannya belajar di Jerman. Mangunwijaya menjadi pastor di Paroki Gereja Santa Theresia, Magelang.

Pemikiran Mangunwijaya di Dunia Pendidikan

Sebagaimana dijelaskan di awal tulisan, Mangunwijaya juga memiliki gagasan terkait pendidikan rakyat. Yang dieksplorasinya menjadi SDKE di Mangunan. Pendirian SDKE bukan sesuatu yang tanpa sebab, SDKE merupakan  bentuk keprihatinan Mangunwijaya terhadap sistem pendidikan yang berlaku pada saat itu di Indonesia yang tidak memberi peluang rakyat miskin untuk belajar dan tidak memanusiakan manusia.

Beberapa hal yang menarik terhadap pandangan Mangunwijaya terhadap dunia pendidikan. Bagi Mangunwijaya hakikat pendidikan dasar merupakan jenjang pertama anak mengenal pendidikan formal, menginggat jenjang yang diambil akan menentukan langkah berikutnya. Karena esensi dari pendidikan dasar sangat menentukan masa depan anak maka memenuhui kebutuhan pendidikan anak miskin sangatlah diperlukan. Selain itu, pendidikan harus memiliki dimensi spiritual (religiusitas). Pasalnya hal tersebutlah yang dapat memberikan hubungan yang baik dalam membentuk sikap dan mengembangkan pengetahuan anak didik.

Bagi Mangunwijaya, pendidikan harus dapat meningkatkan jiwa eksplorasi, dan kreasi-inovasi untuk meningkatkan kecerdasan bukan malah menjadi komandan atau pawang. Selanjutnya yang paing penting adalah budi pekerti dan takwa, karena dengan bekal itulah peserta didik dapat mengolah kehidupan secara nyata.

Post Comment