Wawasan

PERKAMPUNGAN KALI CODE DAN PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA

PERKAMPUNGAN KALI CODE DAN PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA
Perkampungan Kali Code Dan Perubahan Sosial-Budaya

Setiap orang yang pernah tinggal atapun mengunjungi Jogja pasti tahu, sungai atau kali lebar yang membelah Kota ini. Ada tiga kali di sana, Kali Gadjah Wong yang berada di timur, Kali Code yang berada di tengah, dan Kali winongo yang berada di barat. Ke-tiga kaliini berada di sepanjang DIY dan melewati tiga kabupaten/kota, Sleman, Kota Jogja, dan Bantul. Tidak hanya itu, ke-tiga kaliini juga memiliki kisah yang menarik untuk di simak. Kaliini, JogjaKita akan mengulas lebih jauh mengenai Kali Code dan Perkampungan yang ada di dalamnya.

Seperti yang dijelaskan di sebelumnya Kali Code memiliki panjang yang melewati tiga kabupaten/kota. Hulunya terletak di Kabupaten Sleman yang bermata air di kaki Gunung Merapai, sedangkan hilirnya berada di Bantul. Selain itu, bagian yang menarik untuk di ulas adalah perkampungan yang berada di sepanjang Kali Code, salah satunya adalah perkampungan Kali Code.

Perkampungan kali Code merupakan perkampungan yang berada di kawasan Kotabaru, Yogyakarta, tempatnya berada di bawah jembatan Gondolayu. Pemukiman Kali Code ada sejak tahun 1960an, pemukiman ini dibangun di atas tanah Wedi Kanser, atau tanah yang berasal dari luapan Kali Code. Tanah tersebut dikelola oleh dinas perairan, yang seharusnya tidak boleh dijadikan sebagai pemukiman penduduk.

Atas permintaan Pemerintah Kotapraja Yogyakarta kepada Dinas Pengairan Daerah Istimewa Yogyakarta akhirnya tanah wedi kangser tersebut boleh didirikan pemukiman warga. Hal tersebut susai dengan  surat yang dilayangkan Pemerintah Kotapraja Yogyakarta nomor 11736/4899/Soc/59. Melalui balasan surat yang diberikan dinas Pengairan DI Yogyakarta nomer 0.3/69/B.slt, tanah wedi kangser tersebut dapat digunakan sebagai pemukiman penduduk dengan syarat lebar kaliyang ditempati tidak boleh kurang dari 20 meter (Mujianti,2012).

Selain tanah wedi kangser, sebagian warga juga mengunakan tanah Bong. Tanah Bong merupakan tanah pemakaman untuk orang Tionghoa yang dikelola oleh Paguyuban Urusan Kematian Yogyakarta. Pada tahun 1970 tanah tersebut diserahkan kepada pemerintah DI Yogayakarta secara lisan untuk di kelola. Dari situlah beberapa masyarakat Jogja yang belum memiliki hunian memanfaatkan tanah tersebut. Karena lokasinya terletak di pinggiran kali, sehingga masyarakat biasa mengenalnya Girli (Mujianti, 2012).

Sebagian besar penduduk yang tinggal di pemukiman Code adalah warga sekitar Jogja yang melakukan urbanisasi. Mereka berasal dari Solo, Magelang, Klaten, dan sebagian dari kabupaten-kota yang ada di DI Yogayakarta. Perpindahan mereka bukanlah tanpa sebab, pelaku urban yang biasanya pindah ke kota dikarenakan sulitnya mencari pekerjaan yang ada di desa. Kemegahan kota menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka, datangnya mereka ke kota menyimpan harapan yang tinggi akan mendapatkan jaminan hidup yang layak. Karena keterbatasan talent dari SDM yang ada, akhirnya harapan yang digantungkan tak kunjung di dapatkan. Akhirnya mereka memilih hidup seadanya dan menempati tinggal sedapatnya.

Salah satu tempat yang menjadi rujukan adalah Kali Code. Sebagian besar masyarakat memilih tinggal di sini. Selain gratis, masyarakat dapat berkumpul dengan pendatang yang memiliki nasib yang sama. Dari perkumpulan itulah terbentuklah slum.

Slum merupakan istilah yang diberikan pada pemukiman kumuh, yang keberadaannya tidak dapat dihindarkan. Terbentuknya mendapat pengaruh erat dari adanya pertumbuhan penduduk yang tinggi dan perkembangan aspek-aspek kehidupan di perkotaan yang menarik masyarakat desa untuk melakukan urbanisasi. Masyarakat yang mengadu nasib ke-kota tersebut yang akhirnya mendirikan bangunan-bangunan liar, bangunan didirikan pun secara tergesa-gesa tanpa memperhatikan unsur-unsur lainnya. Seperti sanitasi dan children space. Sehingga kawasan tersebut berkembang menjadi pemukiman yang kurang layak.

Berdasarkan kutipan Murjianti yang mengutip Tempo, 1982. Pemukiman kali Code sebelum tahun 1980 terbuat dari seng bekas, plastik, karton, dan sebagainya. Pada tahun 1975, pemukiman ali Code mendapat penggusuran, gubuk-gubuk para pendatang dihancurkan dan dibakar, dan pepohonan yang ada di sekitar Kali Code ditebang, dengan alasan untuk pelebaran Kali Code 30 meter ke kanan dan ke-kiri dari poros sungai. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari banjir yang sering melanda Kota Yogyakarta. Jumlah penduduk yang digusur dalam pelebaran tersebut sebesar 15000 penduduk.

Selain itu, penggusuran dilakukan karena pemerintah tidak ingin melihat adanya pemukiman kumuh yang membentang di Kota Yogyakarta. Sepanjang Kali Code dirancang pemerintah sebagai ruang terbuka hijau. Hal tersebut dikarenakan letaknya yang berada di tengah kota yang menjadi perlintasan tamu gubernuran baik tamu dari dalam ataupun luar negeri.

Terjadi konflik sosial yang berkepanjang itulah yang akhirnya mengetuk hati seorang rohaniawan untuk membina masyarakat Kali Code. Rowo Mangun biasa masyarakat sekitar menyebutnya. Bersama Romo Mangun inilah, masyarakat sekitar berbondong-bondong memperbaiki kondisi lingkungannya. Romo Mangun membuat desain arsitektur Kali Code menjadi rumah yang tahan banjir. Selain itu Kali Code menjadi daerah yang layak huni. Dalam kurun waktu 3 tahun, antara 1983-1986 pemukiman Kali Code yang awal semrawut dan kumuh menjadi daerah yang tertata rapi dan indah. Melihat kerja keras masyarakat sekitar dalam memperbaiki kampung itulah yang mematahkan rencana pemerintah untuk mengusur pemukiman tersebut.

Dari Kampung Hitam Menjadi Kampung Bermoral

Kegigihan Roma Mangun dalam membina masyarakat Kali Code memperlihatkan hasil yang positif. Pemukiman Kali Code yang dikenal sebagai kawasan hitam oleh masyarakat sekitar, berubah menjadi daerah yang bermoral dan memiliki keterampilan kreativitas.

Pada tahun 1980an, pemukiman Kali Code dihuni oleh orang-orang yang memiliki pekerjaan kurang baik. Sebagian dari mereka memilih mengantungkan hidupnya lewat mencuri, merampok, mencopet, dan bahkan beberapa ada yang menjual diri (Mujianti, 2012). Romo Mangun memberikan pembinaan dalam semua aspek kehidupan, di antaranya kebersihan tempat tinggal, kebersihan lingkungan, termasuk pendidikan dan sentuhan rohani.

Kehadiran Romo Mangun menjadi sesuatu yang berharga bagi masyarakat Kali Code. Romo Mangun adalah sosok yang memberikan motivasi pada masyarakat, sehingga mereka berniat untuk menjadi pribadi yang lebih baik. berdasarkan sumber dari penelitian skripsi Mujianti yang berjudul Perubahan Budaya Masyarakat Kali Code 1980-1992 yang diambil dari hasil wawancara dengan masyarakat, kegigihan Romo Mangun dalam membina masyarakat dapat menciptakan perubahan sebagai berikut :

  1. Perubahan Bentuk Bangunan Rumah

Sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya, kehadiran Romo Mangun dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Rumah masyarakat yang awalnya terbuat dari kardus dan plastik dan tentunya tidak ramah dengan banjir, diganti Romo Mangun dengan rumah Kayu berbentuk panggung seperti huruf A yang tahan banjir dan tanah longsor.

  • Realitas Sosial Baru

Dari sentuhan Romo Mangun, masyarakat tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. hal tersebut tentunya mengeser sistem sosial yang tercipta dari masyarakat. Mulai dari cara masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, masyarakat dalam mengolah organisasi ke-masyarakatannya, tentunya perhatian masyarakat terhadap pendidikan dan dalam menumbuhkan nilai spiritualitasnya.

  • Pendidikan Masyarakat

Melalui pembinaan yang dilakukan Romo Mangun, angka buta huruf yang ada di masyarakat menjadi minimal. Sebagian besar masyarakat Kali Code sudah mempunyai keterampilan membaca dan menulis yang baik. Bahkan, kepedulian masyarakat terhadap pendidikan juga meningkat. Masyarakat sudah mulai menyekolahkan anaknya sekolah formal, minimal pendidikan dasar bahkan ada yang sampai lulus perguruan tinggi.

Perubahan masyarakat dalam melihat pendidikan inilah, secara tidak langsung juga merubah pandangan hidup masyarakat. Yang dulunya, masyarakat mempunyai pandangan bahwa yang terpenting adalah uang, bisa makan walaupun dengan mengunakan cara bagimanapun. Dari sinilah, pandangan masyarakat mulai bergeser. Tidak hanya uang yang terpenting dalam hidup tetapi juga moral dan etika.(jogjakita)

Sumber : Mujiyanti. 2012. Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Kali Code 1980-1992(Skripsi). Surakarta : UNS

Post Comment