Wawasan

SASTRAJENDRA DAN ILMU KEJIWAAN JAWA

SASTRAJENDRA DAN ILMU KEJIWAAN JAWA

Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah ajaran luhur yang merupakan intisari makna kehidupan nenek moyang Nuswantara terutama Jawadwipa. Ajaran Sastrajendra tidak akan lekang oleh waktu di tengah perkembangan zaman yang sangat pesat. Ilmu ini bukanlah ilmu yang mudah dipelajari dan bukanlah ilmu yang memiliki rumus pasti. Dalam  mencari dan menyelami ilmu ini dibutuhkan proses dan kemampuan membaca jagat raya beserta babak kehidupan di dalamnya dengan tuntunan Sang Hyang Hurip (Tuhan) yang menjelma sebagai Guru Sejati.

Di era berkembangnya teknologi seperti ini, ajaran Sastrajendra perlu diungkap kembali, hal ini ditujukan sebagai gerakan kembali kepada jatidiri Nuswantara sebagai sebuah bangsa yang luhur. Inilah ilmu kasunyatan yang asli dari Nuswantara yang telah ada jauh sebelum agama-agama datang ke Nuswantara. Nuswantara yang saya maksudkan di sini adalah Nuswantara yang utuh bukan sekedar wilayah Indonesia saat ini, dikarenakan Nuswantara di masa lampau lebih luas dari Indonesia.

Sastrajendra sejatinya adalah keselarasan antara penghayatan spiritual dan sains yang mampu menyadarkan manusia atas realitas mikrokosmos, makrokosmos, dan mahakosmos secara utuh. Kesadaran yang utuh inilah yang perlu menjadi pondasi untuk menjalankan hidup secara harmonis, damai, dan terlepas dari egoisme diri. Hal tersebut guna membangun peradaban luhur yang puncaknya menuju kesempurnaan jiwa sebagai manusia. Hal-hal tersebut sangatlah sesuai dengan tujuan dilahirkannya manusia ke-dunia sebagai unsur penyeimbang.

Tujuan manusia sebagai unsur penyeimbang sudah mulai bergesar. Manusia menjadi makhluk yang mempunyai tingkat ke-egoisan tinggi dalam hal ini adalah serakah, sehingga kehadirannya tidak mampu menciptakan ke-harmonisan bagi yang lain. Maka tidak heran, jika sekarang banyak terjadi bencana alam. Bencana alam dapat dimaknai sebagai pertanda sudah tidak lagi harmonis hubungan manusia dengan alam. Maka sudah sewajarnya prinsip prima-kausa Sang Hyang Hurip berjalan dengan semestinya.

Tidak hanya itu, era globalisasi yang didukung dengan kemajuan teknologi juga memberikan ancaman yang serius bagi hancurnya nuraniah manusia. Teknologi yang digadang-gadang dapat mempermudah manusia dalam menjalani kehidupan ternyata memiliki peran yang sebaliknya. Di tengah kemudahan yang ditawarkan teknologi, kehadirannya juga dpaat merusak moral manusia, terutama moral spiritual.

juga memberikan ancaman yang serius bagi hancurnya nuraniah manusia. Teknologi yang digadang-gadang dapat mempermudah manusia dalam menjalani kehidupan ternyata memiliki peran yang sebaliknya. Di tengah kemudahan yang ditawarkan teknologi, kehadirannya juga dpaat merusak moral manusia, terutama moral spiritual.

Tawaran kemudahan yang diberikan teknologi seringkali membuat orang tergantung. Manusia dirubah menjadi praktis dan menyukai sesuatu secara instan. Ketergantungan terhadap teknologi yang berlebihan itu yang dapat menganggu pikiran-pikiran orang untuk mencari hakikat dari adanya alam semesta dan melalui proses spiritual.

Tidak hanya itu teknologi juga merubah nilai-nilai keluhuran budi dan ajaran saling mengasihi menjadi dengan nilai guna praktis teknologi yang mampu mencukupi kebutuhan manusia sesuai tuntutan zaman. Namun, Secanggih-canggihnya tekhnologi tidak akan mampu mencukupi kebutuhan manusia yang berupa aspek spiritualitas. Jika aspek tekhnologi dan moderintas adanya berada didalam ”ada yang tidak nyata” maka aspek spiritualitas yang diajarkan Sastrajendara berada dalam “ketiadaan yang nyata” yang berarti bahwa semua kemudahan tekhnologi yang ada di dunia ini tidaklah nyata, yang nyata adalah puncak kematangan spiritual manusia yang mampu melebur pada ketiadaan agar menemukan ajaran murni dari Sang Hyang Suwung (Tuhan dalam konsepsi kekosongan).

Apabila manusia tidak lagi mengenali Sang Hyang maka tinggal menunggu saja murka dari-Nya sesuai dengan prinsip prima-kuasa. Angkara murka pada jiwa manusia bisa terjadi karena manusia itu sendiri yang tidak mampu mengatur keselaran pada dirinya. Keselarasan dalam diri manusia juga disebut sebagai unsur-unsur diri, yang meliputi :

  1. Sang Hyang Suwung/Brahman/Sukma Kawekas/Tuhan yang merupakan realitas tertinggi sebagai sumber keberadaan manusia.
  2. Sukma Sejati/Ruh/Atman/Ingsun sebagai esensi fundamental diri manusia.
  3. Sukma/Jiwa sebagai unsur keberadaan yang memiliki keunikan pribadi, yang melakukan perjalanan panjang dalam skema inkarnasi bagi yang paham dan meyakininya.
  4. Tubuh/Raga/Badan Kasar sebagai wahana atau kendaraan bagi sang jiwa untuk mengarungi kehidupan di dunia dan menjalani perjalanan hidup sementara.
  5. Nyawa, adanya nyawa membuat sang jiwa bisa menempati raga atau tubuh manusia. Nyawa inilah yang menjadi tali pengikat antara dua unsur sebelumnya yaitu jiwa dan raga. Selama nyawa masih ada maka jiwa masih bisa menempati tubuh fisiknya. Saat nyawa sirna maka jiwa akan meninggalkan badan fisiknya, dimana badan fisik akan kembali menjadi unsur alam.
  6. Pikiran, ini adalah perangkat dari diri manusia yang diolah dan diproses oleh otak. Dengan pikiran setiap diri manusia yang menempati tubuh bisa memiliki kesadaran dengan melihat fenomena-fenomena disekitarnya. Namun pikiran yang dikendalikan ini sangatlah lemah dan memiliki batasan yang tidak bisa menembus persoalan-persoalan yang berhubungan dengan spiritual.
  7. Perasaan, ini adalah perangkat dari diri manusia yang juga merupakan fungsi dari otak dan saling terkait dengan pikiran. Perasaan muncul sebagai manifestasi dari gambara yang ditunjang oleh sel-sel tubuh yang menghasilkan suatu emosi dan persepsi dalam melihat realita.

Dari ketuju unsur-unsur diri manusia (Sapta Jati)  yang telah disebutkan diatas tidak bisa saling berdiri sendiri karena saling membutuhkan antara satu dengan yang lain, dan yang menjadi tugas manusia adalah menyeimbangkan unsurunsur diatas dengan catatan tidak boleh hanya menonjolkan salah satu unsur diatas agar tidak terjebak dalam angkara dan kecacatan spiritual. Pesan saya kepada saudara sekalian yang hidup di abad ke-21 yang penuh modernitas dan dihadapkan pada konflik multidimensional, bahwasanya jangan sungkan atau tabu mempelajari budaya dan spiritual luhur peninggalan nenek moyang bangsa sendiri dikarenakan didalamnya terkandung makna kehidupan yang akan membawamu pada tujuan hidup manusia (Sangkan Paraning Dumadi).

Penulis : Jihansyah mahasiswa sejarah UPY

Post Comment