REMBOL DAN SEJARAH KAMPUNGNYA

Sudah pernah dengar istilah ‘Rembol’ belum? Istilah yang unik bukan ? Berikut adalah ulasan mengenai sejarah kampung rembol yang wajib kalian ketahui.

Rembol merupakan julukan yang diberikan oleh masyarakat Ledok Code Rt 18/4, Kotabaru, Gondokusuman atas kondisi masyarakat yang ada di sana dulu. ‘Rembol’ merupakan singkatan dari kere tur gerombolKere adalah istilah dari bahasa jawa yang mempunyai arti miskin. Demikian juga gerombol istilah dari bahasa jawa yang mempunyai arti berkelompok. Semuanya berasal dari bahasa jawa karena memang kampung ini berada di Kota Yogyakarta yang sangat kental dengan kebudayaan jawa. Sekarang pembaca sudah mengerti kan, maksud dari kata tersebut? Apa yang ada di pikiran pembaca ketika mendengar kata tersebut? Kumuh, kotor, pinggiran, dan banyak penjahat, bukan? Mungkin pikiran-pikiran pembaca akan kami bedah satu persatu di sini. Namun, sebelum ke sana saya akan menjelaskan pada pembaca terkait lokasi kampungnya rembol tersebut.

‘Rembol’ tinggal di daerah Ledok Code Rt 18/4, Kotabaru, Gondokusuman, Yogyakarta. Kampung ini berada di bantaran Kali Code. Tepatnya, di belakang Masjid Agung Syuhada. Di lihat dari namanya Ledok, merupakan istilah dari bahasa jawa yang artinya lembah. Sedangkan Code merupakan nama kali yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta yang membentang dari Sleman sampai ke Bantul. Sebagaimana namanya, kampung ini berada di Lembah Kali Code. Kalau orang jawa bilang berada di ledokan kali. Karena memang dahulu rembol tidak memiliki tempat tinggal di Yogyakarta. Sebagian besar rembol berasal dari jawa tengah yang sedang atau sudah kerja di Yogyakarta. Karena tidak mempunyai tempat tinggal itulah para rembol memutuskan untuk menetap di hutan kota,[1] persis di belakang Masjid Agung Syuhada. Memang, sebelum menjadi kampung seperti sekarang, kawasan tersebut masuk dalam hutan kota yang di lindungi pemerintah, sehingga tidak jarang mereka mendapatkan perlakuan dari pemerintah untuk digusur atau dipindahkan .

Kampung code berdiri sekitar pada tahun 1982.  Kemurahan hati seorang lurah memberikan ijin kepada Rembol untuk menempati hutan tersebut. Suryadi menceritakan ketika dirinya dipanggil ke kelurahan dan ditanyai oleh Lurah Kotabaru. “Apa bapak sudah nyaman tinggal di sana ?” ucap Suryadi menirukan bahasa lurah tersebut. “Iya pak, kami sudah nyaman tinggal di sana. Habis mau tinggal dimana lagi,” jawab Suryadi. Atas ijin Pemerintahan Kotabaru tersebut, Rembol mempunyai ijin legal untuk menetap di sana. Namun, pihak kelurahan tidak memberikan fasilitas apapun kepada mereka. Mereka harus berusaha sendiri untuk merubah hutan menjadi kampung yang layak huni.

Perjuangan Rembol tidak hanya berhenti di situ. Rembol harus bersusah payah untuk menciptakan kenyamanan dan ketentraman dalam menjaga lingkungan. Menyulap hutan menjadi pemukiman yang layak huni membuat Rembol harus memutar otak. Keterbatasan ekonomi yang memaksa mereka berfikir kritis dalam memenuhi kebutuhan bersama. Salah satunya adalah membuat akses jalan kampung menuju jalan raya. Membangun rumah dalam kawasan yang masih banyak pepohonan dan semak-semak. Rumah-rumah yang masuk gang-gang kecil banyak yang hampir tidak memiliki pekarangan, karena hampir berdempetan satu sama lain.[3] Halaman rumah umumnya hanya sekedar cukup untuk tanaman hias, serta untuk menjemur pakaian saja. Di daerah pinggiran kota pekarangan rumah masih lebih luas dibandingkan dengan pekarangan rumah di tengah kota.

Untuk membuat akses menuju jalan raya, Rembol meminta bantuan pada sopir truk yang mengangkut batu untuk menjatuhkan batunya ke jurang hutan. Supaya semak-semak yang ada di jurang dapat rata. Kebaikan hati seorang sopir truk itulah yang membuat Rembol mempunyai akses ke jalan raya menjadi lebih mudah. Walaupun pada saat itu menuju ke jalan raya tersebut masih setapak. Terbuat dari batu yang disusun ke atas dan hanya dapat dilewati satu orang. Selain jalan yang masih setapak, pemukiman Rembol pun tidak ada listrik. Mereka hanya memanfaatkan lampu sentir sebagai alternatif menerangi malamnya. Belum lagi, pemukiman mereka berada di pinggiran kali yang terkadang mereka harus kreatif untuk pindah jikalau air sungai naik. Kondisi tersebut yang menyatukan Rembol untuk selalu bersama dan saling mendukung. Dalam membangun rumah misalnya, rumah yang berada di kawasan Ledok Code, dibangun dengan gotong royong warga. Mulai dari menyumbang perabotan hingga tenaga. Demi kebersamaan, warga rela tidak dibayar dan meninggalkan pekerjaannya. Walaupun,  pada saat itu warga tidak mempunyai uang untuk memenuhi kebutuhan di esok harinya.

Semangat gotong royong dan persaudaraan itu yang menjadi motivasi utama warga tetap bertahan hidup. Mangan gak mangan kumpul menjadi landasan filosofis dalam merekatkan mereka. Setiap kali ada salah satu dari mereka sakit, maka yang satu juga ikut merasakan, demikian dengan sebaliknya. Saat itu, rumah yang dibangun hanya mengunakan bambu. Mereka dengan senang hati, berbagi keresahan dan kesenangan dengan yang  lainnya. Semangat gotong-royong dan kebersamaan mereka dapat dilihat juga pada kegiatan warga. Setiap seminggu sekali warga melakukan kerja bakti. Kerja bakti ini mempunyai konsep yang berbeda dengan kerja bakti pada umumnya. Seluruh warga melakukan kerja dalam wilayah atau lokasi yang sama dan dilakukan bersama-sama. Kerja bakti di Ledok Code dilakukan di rumah masing-masing. Setiap warga mempunyai kewajiban untuk membersihkan rumah masing-masing dalam waktu yang sama. Sehingga, warga hanya berkewajiban untuk membersihkan rumahnya sendiri. Mereka meyakini cermin daerah atau wilayah yang bersih dan indah dapat diukur dengan kebersihan rumah penduduknya.

Akan tetapi, bukan berarti hal tersebut tanpa sanksi. Sanksi tetap diberikan atas kesepakatan bersama. Sanksi tersebut bukan berupa sanksi sosial seperti mengunjing ataupun mendiskriminasikan. Dan tidak pula berwujud denda. Sanksi yang diberikan dengan mengumpulkan sampah yang ada di rumah warga, kemudian dikumpulkan menjadi satu dan hasilnya dituangkan di depan pintu rumah warga yang tidak ikut kerja bakti. Menurut warga cara tersebut adalah cara efektif untuk menjerakan warga. Warga akan merasa malu dan resah saat melihat tumpukan sampah yang ada di depan rumahnya. Belum lagi beban yang diberikan kepadanya untuk membuang sampah-sampah tersebut yang mana jarak antara tempat pembuangan sampah dengan tempat pemukiman mereka lumayan jauh.

Setiap tahun, penduduk Ledok Code semakin bertambah. Hal tersebut dilatar belakangi dengan mulai tingginya angka urbanisasi, perpindahan penduduk dari desa ke kota. Penduduk desa yang mata pencahariannya terbatas pada pertanian saja sehingga banyak yang meninggalkan desanya untuk mencoba keuntungannya dikota. Padahal keadaan di kota sangat berbalik arah dimana di kota mengandung benih-benih kejahatan yang merajalela.[4] Doktrin kota menyediakan banyak lapangan pekerjaan akibat sentralisasi pembangun di kota pada zaman Orde Baru membuat kota mempunyai tawaran pekerjaan bagi masyarakat desa.

Terkait dengan gaya hidup, masyarakat beranggapan bahwa gaya orang modern selalu melekat pada masyarakat kota. Dengan Framing yang dibangun melalui televisi terkait gaya hidup menjadi salah satu tawaran masyarakat desa untuk pindah ke kota. Hanya sekedar dikatakan gaul dan mengikuti perkembangan zaman sudah menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka. Karena memang salah satu kebutuhan dari mereka adalah untuk memenuhi hasrat agar dapat maksimal dalam eksistensi dirinya. Sikap hidup masyarakat kota pada umumnya mempunyai taraf hidup yang lebih tinggi daripada masyarakat desa. Hal ini menuntut lebih banyak biaya hidup untuk memenuhi kebutuhan yang tiada batasnya dimana orang-orang berlomba-lomba mencari usaha/kesibukan. Akibatnya timbullah sikap pembatasan diri dalam pergaulan masyarakat dan terpupuklah paham mementingkan diri sendiri/egoisme. Masing-masing berusaha sekuat tenaga untuk mencapai tujuannya. Segala sesuatu yang akan dijalankan saja tanpan mempertimbangkan masyarakat sekitar.

Kondisi tersebut terjadi di Yogyakarta. Sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia. Yogyakarta menjadi daya tarik tersendiri bagi para Rembol untuk meningkatkan kebutuhan hidup. Berbekal kenekadan, tanpa skill yang cukup membuat, memaksa Rembol harus pandai mencari tempat tinggal yang murah. Ledok Code menjadi alternatif bagi para Rembol baru tersebut. Biaya kontrakan di sana masih relatif murah karena memang di bawah rata-rata harga pasaran Yogyakarta.

Semakin bertambahnya  tahun, semakin bertambah pula penduduk yang datang ke Ledok Code. Sebagian besar mereka berasal dari Jawa Tengah dan Sekitar Daerah Istimewa Yogyakarta. Walaupun juga ada penduduk yang berasal dari Indonesia bagian timur. Berbagai macam pekerjaan ada di sana dan bermacam-macam agama ada di sana. Kampung kecil tersebut sudah dapat mengambarkan kehidupan plural dan multikultural.  Mereka di satukan dalam kondisi yang sama. Kondisi ekonomi dibawah rata-rata tentunya. Namun, kerukunan dan keharmonisan menjadi bekal utama untuk menjaga ketentraman kampung. Keharmonisan dan kerukunan warga inilah yang menjadi modal untuk menciptakan sebuah perubahan. Sebagai suatu hal yang pantas untuk diwariskan kepada pada generasi berikutnya. Mereka memang tidak mempunyai finansial yang cukup, namun modal sosial yang mereka miliki dapat memicu semangat mereka selalu memperbaiki kampungnya.

[1]Squatter: Seseorang atau sekelompok orang yang menduduki/menempati tanah tanpa membayar sewa atau memiliki wewenang tanah secara resmi.

                [2]Gedhek merupakan sebutan yang ada dalam Budaya Jawa terhadap ayaman yang terbuat dari bambu.

                [3]Wuryanto Abdullah, PERKAMPUNGAN DI PERKOTAAN SEBAGAI WUJUD PROSES ADAPTASI SOSIAL (Kehidupan di perkampungan miskin kota Yogyakarta), (Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1993), hlm.19.

                [4]Muhammad Cholil Mansyur, SOSIOLOGI MASYARAKAT KOTA DAN DESA, (Surabaya: USAHA NASIONAL, 2005), hlm.119.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *