Wawasan

SUKU KARINDING : MELESTARIKAN PELESTARI

SUKU KARINDING : MELESTARIKAN PELESTARI

Bagi masyarakat Jawa Barat tentunya tahu, alat musik tradisional sunda yang terbuat dari bambu. Bentuknya sangatlah sederhana, terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah pancepengan, bagian yang harus dipegang pada saat dimainkan. Bagian kedua disebut sebagai cecet ucing, bentuknya kecil dan tipis, ketika alat musik ini dimainkan maka bagian inilah yang berfungsi mengahasilkan bunyi yang enak didengar. Bagian yang ketiga adalah paneuggeulan sebagai bagian yang dipukul ataupun ditowel, agar alat ini bisa berbunyi. Masyarakat Jawa Barat biasa menyebutnya karinding.

Di balik bentuknya yang sederhana, ternyata karinding memiliki makna filosofis yang dalam. Mulai dari bentuk dan cara memainkan alat, serta latar sosiologis sebagai cerminan masyarakat Jawa Barat. Dalam tulisan Kimung yang berjudul Sejarah Karinding Sunda dijelaskan bahwa, keyakinan pemain karinding dalam memegang karinding mempunyai makna bahwa ia bisa memainkan, yakin bahwa apa yang dimainkan berguna banyak orang, yakin bahwa kepada diri sendiri akan meniupkan ruh positif bagi individu.

Selain itu, energi positif yang dihasilkan dari bermain karinding, sebenarnya akan membuka sumbat yang menutupi potensi positif yang ada dalam diri kita. Sekali sumbat itu dibuka maka energi positif akan mengalir pada diri kita, dan membimbing kita pada tujuan yang kita yakini. Energi itu pula yang mengantarkan kita dalam mencari referensi, bertanya pada yang sudah berhasil, memanajemen pekerjaan sesuai tingkat kepentingannya, menyusun pelbagai langkah yang kita yakini benar, dan bertawakal kepada Tuhan atas apa yang sudah kita lakukan. Hal tersebut itupun harus dilakukan dengan kerendahan hati sebagai perwujudan rasa syukur atas limpahan rahmat yang diberikan Tuhan.

jenis karinding pukul

Secara sosiologis, karinding digunakan sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan rahmat yang diberikan melalui hasil panen. Beberapa sumber yang ditemukan penulis, karinding dimainkan pada saat musim panen padi tiba. Beberapa tangkai padi dipotong lalu dikumpulkan menjadi satu, alunan musik yang mengiringi dalam upacara perwujudan rasa syukur tersebut adalah karinding, karinding juga dipercaya sebagai masyarakat lokal dapat mengusir hama yang ada pada padi. Dan karinding pula lah yang menjadi sarana dalam me-nguyubkan masyarakat.

Hal itu pula lah yang memicu semangat Erwin Riski atau biasa dikenal Iweng seorang mahasiswa asal Semarang dalam mencari dan memainkan karinding. Awal perjumpaan iweng dengan karinding pun berawal dari ketidak sengajaan. Pada akhir tahun 2014, Iweng bertemu dengan temannya, Lukim nama sapaan akrabnya. Pada saat itu, Lukim yang juga mahasiswa asal Bandung itu, membawa pelbagai macam alat musik dari bambu. Kebetulan kakak Lukim adalah salah satu pengrajin alat musik bambu di Bandung. Beberapa kali mencoba akhirnya Iweng dikasih Lukim satu alat karinding. Dalam proses pembelajarannya Iweng menghabiskan beberapa karinding, terhitung 7 karinding ia patahkan. Berawal dari rasa bersalahnya terhadap Lukim, akhirnya Iweng mulai belajar membuat karinding sendiri.

Percobaan membuat karinding dilakukan iweng selama ratusan kali, setelah mengalami kegagalan beberapa kali, akhirnya Iweng berhasil membuat karinding meskipun pada awal pembuatannya masih belum sempurna dan memiliki banyak koreksi.

jenis karinding towel

Sembari membuat karinding, Iweng melakukan beberapa upaya untuk meng-kampanyekan kembali alat musik tradisional  Jawa barat. Dalam catatan Iweng hal tersebut dilakukannya selama 1,5 tahun. Awalnya, karinding didemokan ke Asrama Kujang, sebuah asrama mahasiswa Bandung yang ada di Jogja. Beberapa anak Kujang tidak mengerti Karinding, dan beberapa yang lainnya mengerti namun belum bisa memainkannya. Namun, respon mereka terkait dengan karinding sangatlah bagus. Melihat kondisi tersebut akhirnya memicu semangat Iweng untuk lebih giat lagi mempromosikan karinding. Beberapa pertemuan dilakukan dengan anak asrama Kujuang. Sekedar mendiskusikan karinding ataupun belajar memainkannya. Semangat yang sama dalam menjaga agar kearifan lokal Indonesia tidak hilang dimakan zaman itulah yang membuat Iweng berani membuat workshop mengenai karinding. Tepat pada tanggal 31 Mei 2017, komunitas ngariung karinding (ngakar) terbentuk. Ngariung diambil dari bahasa sunda yang artinya perkumpulan.

Selang beberapa tahun, akhirnya Iweng bertemu dengan Ibnu. Ibnu adalah mahasiswa asal Kuningan yang mempunyai ketertarikan yang sama terhadap karinding. Namun, latar kecintaannya Ibnu dengan Iweng terhadap karinding berbeda. Keberangkatan Ibnu mencintai karinding, saat dirinya melihat melihat seseorang memainkan alat tersebut di sebuah warung kopi. Saat itu, dirinya belum mengetahui identitas alat tersebut.

Rasa penasarannya yang berlebih tersebut, dirinya mencoba bertanya kepada orang untuk mengetahui nama alat tersebut. Hingga akhirnya dirinya tahu bahwa itu adalah karinding. Tidak hanya berhenti di sana, Ibnu mencoba mencari tahu pengrajin karinding yang ada di Jogja. Bermodal jaringan pertemanan, akhirnya Ibnu bertemu dengan Iweng. Awalnya Ibnu ingin membeli karinding hasil kreasi Iweng. Dalam proses pertemuannya Ibnu dan Iweng melakukan beberapa obrolan. Karena memiliki ketertarikan dalam bidang yang sama itulah akhirnya mereka melakukan perjumpaan dalam waktu yang lebih massif.

Pada bulan januari 2019, Ibnu mengajak Iweng untuk membuat karinding bersama-sama. Iweng tidak menyangka kedatangan Ibnu membawa massa. Total 6 orang yang membuat karinding pada saat itu. Tidak seperti biasanya iweng membuat karinding sendirian dan tentunya dalam kesunyian. Iweng membuat karinding sendirian selama 2 tahun.

“Selama 2 tahun aku buat karinding sendiran, ternyata enak kalau bikinnya bersama-sama. Jadi ada obrolan,” ucapnya.

Kelompok pembuat karinding itupun akhirnya melakukan kerja yang sama dalam beberapa pertemuan. Akhirnya ada kepikiran untuk membuat sebuah wadah pegiat karinding.

Awal Terbentunya Suku Karinding

Sebagaimana cerita di paragraph sebelumnya, Suku Karinding ini terbentuk berdasarkan hasil penamaan teman-teman pegiat karinding di Jogja. Penamaan tersebut diberikan setelah dilakukan workshop di Abah Kopi pada 14 April 2019 dengan jumlah peserta sebanyak 12 orang.

Sebagai wadah pegiat karinding Jogja tentunya, berdirinya memiliki latar filosofis terkait dengan penamaan yang diberikan Suku Karinding. Karinding identik dengan Jawa Barat atau Suku Sunda, sedangkan Indonesia sendiri merupakan daerah yang kepulauan yang memiliki banyak suku. Kata suku diberikan karena ada sebuah harapan bahwa karinding dapat menjadi bagian dari musik tradisional di daerah selain Jawa Barat. Pasalnya, kewajiban melestarikan musik tradisional harus dilakukan oleh masyarakat se-Indonesia.

Sedangkan kata karinding tersebut diberikan sebagai penanda bahwa kelompok ini adalah pecinta karinding, memudahkan orang untuk dalam pelebelannya. Karena kelompok ini berada di Jogja, akhirnya diberi nama Suku Karinding Jogja. Sebagaian orang menyebutnya SUKARJO.

Adanya ‘Sukarjo’ inilah yang memudahkan Iweng dan teman-teman dalam mengembangkan karinding. Sudah beberapa kali workshop dilakukan di pelbagai tempat. Selain itu, para pegiat ‘sukarjo’ juga melakukan silaturrahmi ke pegiat karinding yang ada di Jogja dan daerah lain. Sembari menggali informasi lebih dalam lagi terkait sejarah karinding.

beberapa alat musik sejenis karinding yang ada di Indonesia dan dunia

Saat ini, pendistribusian karinding sukarjo hampir menghabiskan 500an karinding. Yang tentunya tersebasar di pelbagai kota yang ada di Indonesia seperti ; Bandung, Palembang, Semarang, Surabaya, dan beberapa kota lainnnya. Bahkan beberapa karinding sukarjo juga sudah samapai ke luar negeri. India, California, dan Malaysia misalnya.  

“Salah satu cara melestarikan tradisi lokal adalah melestarikan pelestarinya. Dan itu sekarang yang saya lakukan,” tutup Iweng.

2 thoughts on “SUKU KARINDING : MELESTARIKAN PELESTARI

Post Comment