THE DEATH OF EXPERTISE, SEBUAH PELAJARAN UNTUK ORANG-ORANG SOMBONG

The Death of Expertise, Sebuah Pelajaran untuk Orang-Orang Sombong

Dekade 1970-an, Amerika mengalami tingkat kepercayaan tinggi terhadap kepakaran. Tidak hanya kepada saintis atau orang yang mendaratkan Neil Armstrong di bulan, tetapi hingga pakar politik, hubungan internasional, ataupun pejabat administrasi negara.

Tercatat, masa tersebut merupakan era di mana Amerika mencapai kejayaan pengetahuan dan kepemimpinan internasional. Namun, seperti dua mata pisau. Di satu sisi terjadi kepercayaan yang tinggi terhadap pakar, tapi di sisi lain terjadi penyalahgunaan terhadapnya. Di abad ini, ilmuan, saintis, dan tenga ahli dianggap sebagai poros elit berkepentingan. Dan saat itu pula masyarakat mencapai titik kulminasi ketidakpuasan terhadap kemapanan ilmu pengetahuan.

Tom Nichols menyebut situasi semacam ini sebagai The Death of Expertise. Kondisi masyarakat yang memiliki perasaan skeptis yang tidak sehat terhadap pendapat pakar. Mereka cenderung menolak dan aktif membantah meski tanpa alasan yang jelas. Alih-alih menegasi kemapanan tersebut, masyarakat seringkali terjebak pada kritik dan argumen tak berdasar. Masyarakat dengan congkaknya mendobrak “Kepakaran” melalui pendapat yang tak dapat dipertanggungjawabkan.  

Teori konspirasi terkadang lebih dipercayai dibanding penelitian para ahli. Fenomena Flat Earth Society, misalnya. Sebuah bentuk perlawanan berdasar sentimen teori persekongkolan. Penganut paham bumi datar pun melawan argumen Nasa dengan sains—yang sesungguhnya hanya pseudo—gaya mereka sendiri.

Kebalikan dari dekade 1970-an di Amerika tengah terjadi. Ditemukan fenomena lebih buruk dari sekadar menolak keahlian. Dalam buku The Death of Expertise karya Tom Nichols, yang diterjemahkan menjadi Matinya Kepakaran, disebutkan bahwa perbincangan tanpa aturan di media sosial seringkali menunjukkan sentimen terhadap kepakaran.

Nichols menggolongkan perbuatan itu sebagai bentuk narsisme brutal dan aktualisasi diri yang berbuntut pada penghinaan terhadap kepakaran. Sebuah perilaku yang seringkali bersikap selalu-merasa-benar dan paling-merasa-pintar.

Ketegangan yang mencerminkan anti-intelektualisme seperti kasus tersebut belakangan ini muncul. Pada medio 2017, jagad media sosial diguncang dengan gerakan anti-vaksin. Perang argumen tidak terhindarkan. Anjuran dokter mengenai vaksin dibantah mentah dengan argumen agama.

Isu yang diangkat adalah vaksin mengandung lemak babi dan menimbulkan dampak negatif seperti menurunnya sistem imun alami. Dengan landasan ketidakpercayaan terhadap pemerintah, industri farmasi, dan lain-lain, kelompok anti-vaksin ini dengan enteng meludahi anjuran penggunaan vaksin.

Kejadian yang hampir serupa terjadi di Negeri Paman Sam. Terdapat kelompok kecil yang menyangkal HIV adalah penyebab dari AIDS. Teori ngawur ini sudah dipatahkan oleh beberapa penelitian. Namun, nasi sudah menjadi bubur, dampaknya telah meluas. Pada pertengahan tahun 2000, terjadi kenaikan korban AIDS di negara tersebut.

Kesombongan dan ketidakpercayaan ini membikin penyakit yang seharusnya dapat dicegah. Ini yang disebut Nichols sebagai ancaman era informasi. Berita bohong pun bisa tersebar cepat. Namun, kesalahan tidak bisa ditimpakan kepada perkembangan teknologi seperti internet yang di satu sisi signifikan membantu pekerjaan manusia.

Namun, kebebalan dan kesombongan inilah yang perlu dilawan. Bagi saya, perlawanan terhadap kemapanan sah-sah saja dilakukan. Dengan catatan, memiliki landasan serta data yang pasti dan dapat dipertanggungjawabkan. Sehingga, kesombongan tidak berdasar dan kemarahan narsistik tersebut tidak kembali menjerumuskan masyarakat menjadi “mangsa takhayul”.

Menurut hemat penulis, kiranya kita perlu adil melihat fenomena ini. Selain adanya kesombongan dari sebagian masyarakat mutakhir, menurut Nichols kita semua memilik masalah alami, yaitu “bias konfirmasi”. Artinya, kecenderungan menerima bukti yang mendukung kepercayaan diri. Hal ini ditunjang beberapa aspek seperti pengalaman subjektif, prasangka, hingga ketakutan yang tidak bisa ditanggulangi oleh ahli.

Ambil contoh, seseorang yang fobia ketinggian. Meskipun teknisi pesawat terbang, membujuknya dan mengatakan bahwa tidak akan terjadi masalah, ia akan tetap ketakutan dan paranoia.

Dalam masyarakat modern orang-orang terpetakan berdasarkan keahlian, fungsi-fungsi kerja yang dikelompokkan pada pembagian kerja. Mungkin, seorang penulis fiksi ilmiah Robert Heinlein pada awal 1970-an, menyatakan bahwa “spesifikasi hanya berlaku pada serangga”.  Sebab, manusia dapat melakukan banyak hal sekaligus: menjadi istri, ibu rumah tangga, sekaligus insinyur; suami yang mengganti popok juga tentara daerah perbatasan.

Namun, pernyataan tersebut tidak sepenuhnya salah, tapi tidak juga selurunya benar. Betapapun manusia dipercaya dapat mengatasi banyak hal, melakukan pekerjaan yang rumit, ia tetaplah memiliki batasan ketidaktahuan.

Dahulu, mungkin orang dapat menjadi penebang kayu, arsitek, sekaligus tukang yang membangun rumah. Namun, rumah-rumah yang dilahirkan tetaplah dalam bentuk sederhana. Berbeda cerita dengan manusia modern yang membangun gedung-gedung pencakar langit. Mereka butuh arsitek, ahli besi, penata lingkungan, hingga pengacara.

Kita seharusnya memperhatikan spesifikasi semacam ini dengan sedikit jeli. Intelektualitas terkadang hirarkis dan sedikit tidak adil. Namun, paling tidak untuk memulai mencari spesialisasi diri guna memenuhi tuntutan dunia modern. Tidak harus kaku dan melulu melalui pendidikan formal.

Kini, ilmu-ilmu  mudah didapati. Jurnal-jurnal ilmiah bisa dicari secara gratis. Kita boleh tidak setuju dengan buku The Death of Expertaise yang ditulis Nichols, tapi kita tidak bisa ingkar dengan beberapa kenyataan yang bisa membunuh keilmuan dan kepakaran itu sendiri.***

Sumber gambar : http://www.msauret.com/silent-death-literary-magazines/

Zaim Yunus, lahir di Kendal, 19 Mei 1999. Ia aktif sebagai mahsiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligus jurnalis di lpmarena.com. Kini, ia sibuk di Komunitas Kutub Yogyakarta sebagai pegiat literasi dan penulis lepas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *