Kabar Jogja

WUJUDKAN KESETARAAN DALAM MASYARAKAT, KELOMPOK DIFABEL PUCUNG BENTUK ORGANISASI

WUJUDKAN KESETARAAN DALAM MASYARAKAT, KELOMPOK DIFABEL PUCUNG BENTUK ORGANISASI

Kelompok difabel pucung bentuk organisasi dalam Forum Grup Discussion (FGD) yang diselenggarakan 8 Agustus 2019 di balai dusun Pucung. FGD yang bertemakan Bersama Wujudkan Kesetaraan dalam Masyarakat ini diselenggarakan oleh KKN UIN. Kegiatan tersebut difasilitatori oleh Astri Hanjarwati.

Astri Hanjarwati menjelaskan ada empat hal yang wajib dipenuhi untuk menciptakan lingkungan inklusif atau ramah terhadap difabel. Di antaranya adalah partisipasi penuh dari difabel ; maksudnya difabel dapat berperan aktif sebagai warga desa ; difabel juga dilibatkan dalam perumusan kebijakan yang ada dalam desa.

Astri juga menjelaskan bahwa ketersediaan layanan hak, aksesibiltas, dan sikap inklusif menjadi hal yang perlu diperhatikan untuk menciptakan lingkungan yang ramah difabel. “sikap inklusif yang saya maksudkan di sini adalah sikap aparat pemerintah, masyarakat umum yang tidak diskriminatif, dan pemberian penghormatan atas hak-hak difabel,” tuturnya.

FGD tersebut membentuk struktur organisasi difabel Pucung, yang diketuai oleh Edi Setiawan. Sekretaris organisasi oleh Rini, Bendahara diisi oleh Sutris, dan Anggotanya Pardi, Sartini, Maryono, dan Triyono.

Elsa salah seorang fasilitator menjelaskan pentingnya dibentuk organisasi difabel ini untuk memberikan wadah bagi difabel dusun Pucung untuk menyampaikan aspirasinya, karena mereka juga bagian dari masyarakat yang seharusnya memiliki hak yang sama. “Pasalnya selama ini banyak dari mereka yang dikucilkan,” imbuhnya saat diwawancarai jogjakita via WhatApps 9 Agustus 2019.

Elsa mencontohkan salah satu bentuk pengucilan yang dialami difabel Pucung adalah jarang dilibatkannya mereka dalam acara yang diselenggarakan masyarakat. Hal tersebut terjadi karena kurangnya pengetahuan (SDM) masyarakat pucung mengenai difabel.

Elsa berharap ada organisasi seperti Sigab ataupun Dinas Sosial yang mendampingi mereka.

Pardi salah seorang penyandang disabelitas menjelaskan dirinya jarang diajak rapat padahal dirinya terlibat dalam karang taruna desa.

Berbeda dengan Pardi, Rini salah seorang penyandang disabelitas masih belum memiliki rasa percaya diri yang kuat, sehingga dirinya tidak terlibat aktif dalam kegiatan masyarakat. Rini juga menjelaskan hal tersebut terjadi karena masih minimnya pengetahuan orang tua tentang difabel.

Reporter : Abdul

Editor : Akmaluddin

Post Comment