Kampung Wisata

KREASI LAMPION MASYARAKAT BANTARAN KALI CODE

KREASI LAMPION MASYARAKAT BANTARAN KALI CODE

Ledok Code Yogyakarta merupakan kampung yang berada di bantaran Kali Code, yang berada dibawah pemerintahan Kotabaru, Gondokusuman, Yogayakarta. Secara geografis, kampung ini mempunyai letak yang sangat strategis. Berada di belakang Masjid Agung Syuhada Yogyakarta.  Konon, masjid tersebut merupakan masjid nasional pertama sebelum masjid Istiqlal Jakarta. Selain itu, letak kampung tersebut berada di jantung Kota Yogyakarta, diapit dua ikon wisata jogja yang familiar ; Tugu Jogja dan Malioboro.

Kampung yang berada di bantaran kali ini mempunyai sejarah yang panjang. Dari awal peresmian kampung hingga saat ini. Di balik sejarahnya yang sudah lama, kampung ini menyimpan potensi yang besar dalam diri warganya. Sebagaian  warga di sana memiliki jiwa seni yang tinggi dan jiwa kreativitas yang mumpuni.

Lampion menjadi salah satu produk unggulan masyarakat Ledok Code. Sebagai upaya untuk mengekspresikan kesenian, lampion juga dijadikan sebagai simbol kampung. Hampir pada setiap tahunnya kampung ini merayakan Festival Kampung Lampion (FKL) yang biasanya jatuh pada akhir bulan desember.

FKL ini menjadi bukti ke-kompakkan masyarakat dalam membangun kampungnya. Selain itu, FKL menjadi anti-tesa atas argumentasi yang sudah lazim didenggar, bahwa masyarakat pinggiran kali merupakan masyarakat yang kumuh dan brandalan. FKL membuktikan bahwa argumentasi tersebut tidak dapat digeneralisirkan. Tidak semua masyarakat pinggiran kali dapat dilebeli seperti itu. Cara pandang tersebut merupakan cara pandang negatif, yang mempunyai semangat yang jelek untuk mendorong perubahan pada masyarakat pinggiran kali.

Tentang FKL Ledok Code Yogyakarta

FKL merupakan sarana masyarakat untuk meng-ekspresikan jiwa seninya. Selain itu, juga dijadikan sebagai hiburan masyarakat dalam menyambut tahun baru. FKL juga mempunyai memberikan makna bahwa masyarakat pinggiran kali mempunyai cara tersendiri dalam merayakan libur panjang tahun baru. Karena hiburan yang ditawarkan di luar sana,sudah terlalu mainstream. Justru di momen inilah, kita mengundang masyarakat umum untuk pergi ke kampung code untuk merayakan malam tahun baru bersama.

Masyarakat menampilkan karya seni mereka masing-masing. Nyanyi, jatilan, ketoprakan, dan teater rakyat adalah bagian dari yang ditampilkan. Sebelumnya itu, pengunjung akan disuguhkan dengan pemandangan kampung yang berbeda dari biasanya. Kampung dipenuhi dengan gelantungan lampion dan seni mural disetiap temboknya yang tentu tidak mengurangi estetika seni yang semestinya.Tidak terlewatkan juga beberapa mural dikhususkan untuk pengunjung agar dapat berfoto ria. Bahasa gaul masyarakat sekarang ya instagramble.

Setiap pengunjung yang datang ke Kampung Ledok Code disambut dengan ramah oleh pemuda-pemudi kampung yang berjaga disetiap stand yang ada. Tentunya sebagai ruang informasi terkait dengan menjelaskan latar ruang dan pilihan tema yang diangkat dari kampung tersebut.

Oh iya, tema itu juga yang menjadi sarana penyampaian aspirasi masyarakat pada pemerintah Yogyakarta. Karena ruang penyampaian pendapat bagi masyarakat pinggiran kali sangat kecil kemungkinannya untuk didengarkan. Akhirnya FKL inilah mereka membuat semacam public opnion atas segala keresehan melalui karya seni dan pada momen FKL jajaran pemerintahan desa hingga kota diundang khusus untuk menikmatinya.

Post Comment